GELOMBANG PANAS INDIA


Telah dimuat di Harian ANALISA, 11 Juni 2015

analisa3a

Gelombang Panas India

Seberapa panaskah suhu udara di sekitar kita? Sebelum mengeluhkan panas, coba bandingkan dengan suhu anak benua yang membara sejak April hingga Mei 2015. Gelombang panas (heat wave) telah membuat suhu udara di tanah Hindustan, India begitu ekstrem dan mematikan.Gelombang panas ialah cuaca ekstrem yang dipengaruhi oleh parameter suhu udara.Hal ini memicu temperatur maksimum di India memiliki rata-rata diatas 45 derajat Celcius, dengan rekor menyentuh angka 50 derajat. Hingga 29 Mei 2015, tercatat lebih dari 1.500 orang meninggal karena hipertermia dan dehidrasi. Departemen Penanggulangan Bencana setempat menyatakan korban terbanyak berada di wilayah Andhra Pradesh dan Telangana. Sebagian besar korban adalah orang yang terpapar matahari secara langsung, kebanyakan berusia 50 tahun ke atas, para gelandangan dan dari kelas pekerja.

Ratusan orang, terutama dari keluarga miskin tewas akibat gelombang panas yang memang melanda setiap tahun di India. Sedangkan puluhan ribu orang tidak mendapat aliran listrik karena jaringan listrik menjadi overheating karena penggunaan yang terus meningkat. Gelombang panas layaknya kini menjadi sebuah ancaman yang mencekam, karena sejak tahun 1990 gelombang panas telah menewaskan 20.000 rakyat India. Tahun ini, gelombang panas lebih panas dibandingkan gelombang panas yang terjadi sebelumnya. Rekor suhu yang terus-menerus konstan di atas 45 derajat Celcius mampu melelehkan aspal jalan raya.

Berdasarkan IMD (India Meteorological Department), gelombang panas (heatwave) yakni periode suhu abnormal tinggi yang terjadi selama musim panas antara bulan Maret dan Juni, dalam beberapa kasus yang jarang terjadi bahkan sampai bulan Juli di bagian utara hingga barat India.Tahun ini, negara bagian selatan menjadi yang terparah karena banyaknya korban jiwa. Kondisi atmosfer dan suhu ekstrem yang dihasilkan sangat mempengaruhi orang yang tinggal di daerah tersebut karena dapat menyebabkan stress fisiologis yang berujung pada kematian. Ketika suhu maksimum mencapai 45 derajat Celcius atau lebih, saat itulah gelombang panas dinyatakan. Suhu maksimum harian yang lebih tinggi dan lebih lama, serta gelombang panas yang lebih sering terjadi di dunia adalah dampak nyata dari pemanasan global. Saat ini, anak benua menduduki peringkat ketiga dalam emisi karbondioksida tertinggi di dunia.

India adalah salah satu negara yang merasakan peningkatan kasus gelombang panas yang lebih intens setiap tahun yang berakibat buruk pada kesehatan manusia sehingga meningkatkan jumlah korban gelombang panas. Dampak kesehatan dapat berupa dehidrasi, pingsan, kelelahan, sakit kepala, kram otot, keringat berlebih, dan dalam waktu berkepanjangan bisa menyebabkan kematian. Warga dihimbau oleh otoritas setempat untuk mengenakan penutup kepala jika keluar ruangan, memperbanyak minum air, mengenakan pakaian berbahan katun, dan mengurangi aktivitas di luar ruangan ketika siang hari. Terlihat, banyak warga yang merasa kepanasan dengan menceburkan diri di kolam atau menyemprotkan pipa air untuk mendinginkan tubuh mereka. Bahkan ada banyak posko dibangun untuk menyediakan air bagi warganya.

Teror Suhu Ekstrem

Departemen Meteorologi India (IMD) terus memantau dan merilis red warning yang berisi peringatan bagi wilayah-wilayah yang diperkirakan masih akan dilanda gelombang panas pada beberapa hari ke depan. Diantaranya adalah wilayah Jharkand, Odisha, Delhi, Uttar Pradesh, Rajasthan, Andhra Pradesh, dan Telangana. Serangan gelombang panas kali ini bahkan memaksa pemerintah di beberapa wilayah untuk mendeklarasikan status darurat siaga 1. Diperkirakan bulan Juni akan datang iklim monsun yang membawa hujan dan mengakhiri gelombang panas di anak benua ini.

Lalu apa sebenarnya penyebab dari gelombang panas? Di India sedang bertiup angin Loo, hembusan angin barat panas dan kering yang berasal dari Pakistan dan India barat laut yang berhembus di area red warning. Ini membuat kelembaban udara dan titik embun menjadi rendah. Kondisi ini diperkuat dengan adanya El Nino yang membuat suhu permukaan laut semakin panas. Gelombang panas terjadi ketika sistem tekanan tinggi di lapisan tengah atmosfer (10.000-25.000 kaki) menguat dan menyelimuti sebuah area dalam beberapa hari hingga beberapa minggu. Pola cuaca musim panas yang sulit berubah membuat sistem tekanan tinggi di lapisan tengah atmosfer terus bertahan. Di bawah sistem tekanan tinggi, udara akan membentuk sebuah kubah yang menyelimuti atmosfer. Kubah udara akan menghambat proses penguapan, yang berarti tidak ada pembentukan awan konvektif yang membawa hujan. Akumulasi dari panas yang terus-menerus terjebak dalam kubah udara inilah yang dinamakan gelombang panas.

Di Indonesia, mungkin kita tidak akan mengalami gelombang panas maha dahsyat seperti yang dialami India. Akan tetapi, melalui pengamatan dan dari apa yang kita rasakan sehari-hari jika kita bandingkan dengan suhu panas yang ekstrem di kota-kota besar di Indonesia, memang jauh. Rekaman suhu tahun 2015, temperatur ekstrem di Jakarta dan Medan mencapai 37 derajat, sementara itu Semarang dan Surabaya hampir menyentuh 39 derajat Celcius. Bayangkan, betapa panasnya interval suhu 10 derajat di atas suhu maksimum yang terjadi di negara kita, itulah yang tengah melanda India.

Termometer di seluruh dunia saat ini menunjukkan indikasi yang sama terhadap besaran suhu maksimum, yaitu peningkatan. Hal ini tidak salah, data-data yang ada menunjukkan bumi memang sedang mengalami peningkatan suhu dari waktu ke waktu. Dalam kurun waktu 60 tahun terakhir atau dimulai pada pertengahan abad 20, pemanasan global menjadi pemicunya. Para ilmuwan menyebut sepanjang Januari hingga April 2015, suhu rata-rata di dunia telah meningkat 0,68 derajat Celcius dari angka normal. Kondisi ini menjadikan tahun 2015 sebagai tahun terpanas sepanjang abad ke-21. Bukan tidak mungkin, tren peningkatan suhu ini akan terus berlangsung di tahun berikutnya.

Lalu seperti apakah gelombang panas di masa depan? Jika kita meneruskan ketergantungan penggunaan bahan bakar fosil yang menimbulkan pemanasan global, maka gelombang panas yang lebih ekstrem akan menjadi normal di sebagian besar dunia pada akhir abad 21. Namun, jika kita mengambil langkah-langkah utama untuk mengurangi emisi gas rumah kaca manusia, jumlah gelombang panas yang ekstrem akan stabil setelah tahun 2040. Pemanasan global telah menjadikan cuaca ekstrem sebagai salah satu bencana yang mematikan dan merenggut banyak korban.

Sesungguhnya, gelombang panas rutin terjadi di India setiap tahunnya. Namun, pemerintah tidak bisa mengendalikan emisi karbondioksida yang sangat tinggi di negaranya sehingga memperparah pemanasan global dan membuat gelombang panas semakin panas. Oleh karena itu, mari lebih peduli pada bumi kita, gelombang panas yang melanda India jangan sampai terjadi di Indonesia di masa mendatang. Namun sebaliknya, jika kita semakin tidak peduli dengan bumi, maka teror suhu ekstrem yang semakin panas bisa saja melanda di mana-mana, tak terkecuali di tanah air kita.***

Oleh Prayoga Ismail

Penulis adalah pengamat meteorologi dan geofisika, Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Stamet Biak.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s