PREDIKSI GEMPA BUMI?


Telah dimuat di Koran WASPADA, 18 Mei 2015

waspada6a

Prediksi Gempa Bumi?

Gempa bumi dahsyat melanda Nepal pada bulan April lalu merenggut lebih dari 8.000 korban jiwa dan membuat kerusakan cukup parah pada infrastruktur yang ada. Belum sepenuhnya pulih, kabar terbaru 12 Mei 2015, Nepal kembali diguncang gempa 7,4 Skala Richter. Melihat banyaknya kerusakan yang ditimbulkan dan banyaknya korban jiwa akibat gempa bumi. Sehingga muncul pertanyaan, mungkinkah gempa bumi bisa diprediksi? Sebuah pertanyaan yang tidak mudah dijawab oleh para ahli yang berkecimpung dalam bidang ilmu kebumian khususnya gempa bumi.

Sudah bertahun-tahun para pakar gempa memprediksi gempa besar akan terjadi di kawasan Himalaya, antara Nepal dan India. Nepal adalah salah satu daerah paling rawan gempa di dunia karena berada di zona tumbukan dua lempeng tektonik, lempeng India dan Eurasia. 90 juta tahun lalu terjadi tumbukan lempeng benua kuno, India dan Eurasia yang membentuk pegunungan Himalaya. Gempa Nepal 7,8 SR pada 25 April 2015 dan gempa 7,4 SR pada 12 Mei 2015 menjadi bukti nyata kebenaran prediksi dari efek domino pola gempa yang sudah terjadi sejak ratusan tahun silam. Hal ini sekaligus memberi peringatan bahwa bencana serupa juga akan terjadi pada daerah-daerah yang memiliki kondisi geologi dan kontur tanah yang mirip dengan Nepal.

Kondisi serupa sebenarnya ada di Indonesia. Kontur tanah di Indonesia memiliki kesamaan dengan Nepal, yakni berupa sedimen tanah lembut yang sangat labil dan mudah longsor. Dengan kondisi seperti ini, guncangan gempa mudah menyebabkan kerusakan dan memicu jatuhnya banyak korban. Potensi gempa setelah Nepal kembali diingatkan oleh presiden Geohazards, Brian Tucker. Geohazard adalah lembaga nonprofit asal California yang mengkampanyekan pengurangan risiko bencana alam di daerah-daerah paling rawan gempa di dunia.

Gempa bumi ialah peristiwa bergetarnya bumi akibat adanya pelepasan energi di dalam bumi secara tiba-tiba yang ditandai dengan patahnya lapisan batuan pada kerak bumi. Akumulasi energi penyebab gempa dihasilkan dari pergerakan lempeng-lempeng tektonik. Energi yang dihasilkan dipancarkan ke segala arah berupa gelombang seismik sehingga dampaknya dapat dirasakan sampai ke permukaan bumi. Secara teoritis, gempa bumi merupakan peristiwa alam yang sebelum terjadi akan terdapat perubahan parameter fisis yang mendahuluinya yang biasa disebut prekursor. Kegiatan prediksi gempa bumi mencakup tiga hal yaitu waktu terjadinya gempa, lokasi jangkauan atau pusat gempa, dan seberapa besar kekuatannya.

Riset Kegempaan

Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) dalam rangka upaya memprediksi gempa bumi telah menyusun sebuah program riset kegempaan dengan jangka waktu 30 tahun. Salah satu persiapan yang dilakukan BMKG adalah mengembangkan teknologi prekursor yakni memprediksi dengan mengukur percepatan kulit bumi untuk mengetahui wilayah terjadinya gempa bumi. Dari banyak prekursor gempa, diantaranya adalah hasil eksperimen laboratorium menunjukkan bahwa sebelum terjadi gempa bumi maka batuan di sekitarnya akan mengalami perubahan-perubahan parameter seperti: tahanan listrik akan menurun, perubahan stress and strain (tekanan dan regangan), fluktuasi unsur radon, perubahan permukaan air bawah tanah, perubahan suhu air bawah tanah, hingga perubahan tingkah laku binatang.

Dekade pertama, dimulai dengan mengadakan peralatan prekursor di seluruh stasiun geofisika BMKG, pengumpulan data prekursor masing-masing stasiun, pengumpulan data historis gempa yang pernah terjadi, dan analisis ulang gempa untuk membuat model prediksi. Dekade kedua, membandingkan dan memadukan hasil pengamatan prekursor dengan hasil riset dari luar BMKG, dan pemodelan prediksi gempa ke dalam sebuah perangkat lunak (software). Serta pembagian jangka waktu prediksi gempa yang terdiri dari jangka panjang (di atas 5 tahun), menengah (6 bulan-5 tahun), pendek (2 minggu-6 bulan), dan sangat pendek (kurang dari 2 minggu). Dekade terakhir, menerapkan model prediksi gempa yang berhasil dibuat, kemudian disosialisasikan kepada instansi terkait, sebelum akhirnya informasi tersebut sampai kepada masyarakat.

Selain itu, BMKG juga mengembangkan teknologi tsunami early warning system atau sistem peringatan dini tsunami. Dengan mengetahui lokasi dan kekuatan gempa, bisa diprediksikan pula potensi tsunami. Posisi Indonesia berada diantara kepungan 4 lempeng tektonik yang aktif bergerak yaitu lempeng India-Australia, lempeng Eurasia, lempeng Pasifik, dan lempeng Filipina. Inilah mengapa Indonesia juga menjadi negara paling rawan gempa di dunia. Hal ini dikarenakan banyaknya zona tunjaman lempeng atau subduksi. Zona dimana, wilayah lempeng masuk ke wilayah lempeng yang lain.

Belajar dari gempa Nepal, sudah saatnya Indonesia berbenah, menyiapkan segala kemungkinan yang muncul akibat gempa. Sehingga tidak timbul banyak korban jiwa. Apalagi, sejumlah daerah yang berpotensi terdampak gempa mayoritas adalah daerah padat penduduk. Seluruh elemen masyarakat diharapkan selalu waspada, memperhatikan infrastruktur bangunan tahan gempa, dan melakukan langkah mitigasi yang terintegrasi.

Ilmu kegempaan hingga kini hanya bisa memperkirakan wilayah terjadinya gempa, bukan waktunya. Sehingga kapan gempa itu akan muncul, belum bisa diketahui.

Namun, prediksi terjadinya gempa yang ada bukan untuk menakuti, melainkan untuk membuat lebih waspada. Masyarakat di kawasan yang dikhawatirkan terjadi gempa harus lebih ekstra diberikan pendidikan pencegahan (mitigasi bencana) atau berlatih menghadapi gempa yang bisa datang sewaktu-waktu. Gempa dengan pusat gempa di darat bisa menimbulkan kerusakan hebat, sedangkan gempa dengan pusat gempa di laut bisa memicu terjadinya tsunami. Indonesia harus lebih waspada.  ***

Oleh Prayoga Ismail

Penulis adalah pengamat meteorologi dan geofisika, Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Stamet Biak.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s