MEMAHAMI PERINGATAN DINI GEMPA&TSUNAMI


Telah dimuat di Koran WASPADA, 26 Desember 2014

waspada4c

Memahami Peringatan Dini Gempa dan Tsunami

Sepuluh tahun sudah masyarakat Indonesia mengenang tragedi geohazard terbesar yang pernah terjadi di awal abad 21, tsunami Aceh. Akhir tahun 2004 ditandai dengan kejadian gempa bumi dahsyat sebesar 9,3 skala Richter di radius 160 km sebelah barat Aceh dengan kedalaman 10 km. Ini merupakan gempa bumi dangkal dan terkuat di dunia dalam kurun waktu 40 tahun terakhir. Sedikitnya 500.000 nyawa menjadi korban keganasan gelombang tsunami yang menghantam seluruh tepian dunia yang berbatasan langsung dengan Samudera Hindia, tak terkecuali provinsi paling barat Indonesia, Nanggroe Aceh Darussalam. Sekitar 50 persen bangunan yang berdiri di Aceh hancur lebur. Bahkan para pakar gempa menganalogikan kekuatan gempa ini mampu membuat seluruh bola Bumi bergetar dengan amplitudo getaran melebihi 1 cm.

Terekam dalam sejarah, dari tahun 1992 siklus gelombang tsunami di Indonesia terjadi dalam pola dua tahunan. Dimulai dari tsunami Flores tahun 1992, tsunami Banyuwangi tahun 1994, tsunami Biak (Papua) tahun 1996, tsunami Taliabu (Maluku Utara) tahun 1998, tsunami Banggai (Sulawesi Utara) tahun 2000, tsunami Manokwari (Papua) tahun 2002, dan tsunami Aceh tahun 2004. Semenjak tahun 2005, BMKG mencatat pola tsunami di Indonesia berubah menjadi pola satu tahunan. Terdorong oleh peristiwa-peristiwa itulah, pada tahun 2005 pemerintah Indonesia bekerjasama dengan Jerman membangun suatu sistem peringatan dini gempa bumi dan tsunami yang dinamakan InaTEWS (Indonesia Tsunami Early Warning System). InaTEWS mampu mengeluarkan peringatan dini dalam waktu 5 menit setelah gempa bumi terjadi. Hal ini menjadikan Indonesia sebagai acuan negara-negara di Samudera Hindia dalam early warning system.

Sistem peringatan dini InaTEWS merupakan proyek nasional yang melibatkan berbagai institusi dalam negeri di bawah koordinasi Kementerian Negara Riset dan Teknologi. BMKG, BAKOSURTANAL, dan BPPT menjadi institusi teknis yang melaksanakan operasional pengamatan unsur-unsur gempa bumi, pergerakan kerak bumi, dan perubahan permukaan air laut. Sedangkan Kementerian RISTEK, DEPDAGRI, LIPI, dan BNPB melaksanakan peningkatan kewaspadaan dini dan kesiapsiagaan masyarakat. InaTEWS memiliki fungsi dalam mendeteksi gejala alam yang berpotensi menimbulkan tsunami, mencari lokasi pusat gempa tsunami, memprediksi kemungkinan kerusakan yang ditimbulkan, menentukan daerah yang akan terkena dampak tsunami, dan meminimalkan jumlah korban jiwa.

Jika dibandingkan dengan Japan Meteorological Agency (Jepang) yang mampu mengeluarkan warning dalam selang waktu 2 menit saja, Indonesia memang masih kalah cepat. Akan tetapi, Jepang membutuhkan 50 tahun untuk merancang sistem peringatan dini tersebut. Sementara itu, Indonesia hanya membutuhkan waktu 5 tahun dalam mengembangkan sistem peringatan dini serupa yang mampu menginformasikan potensi gempa dan tsunami dalam selang waktu 5 menit. Dengan pencapaian ini, Indonesia bersama-sama dengan India dan Australia menjadi negara penyedia peringatan dini tsunami (Regional Tsunami Service Provider) bagi negara-negara di wilayah Samudera Hindia. Penetapan tersebut merupakan bentuk kepercayaan dunia atas keberhasilan Indonesia dalam menjaga, mengoperasikan, dan secara konsisten melakukan pemeliharaan dan perbaikan sistem peringatan dini yang ada.

Sinergi Informasi

Organisasi Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan Kebudayaan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNESCO) menyebut Indonesia sebagai negara yang mengembangkan sistem peringatan dini tsunami terbaik di dunia. Tsunami mungkin tidak bisa dicegah, akan tetapi dengan adanya sistem peringatan dini, setidaknya masyarakat dapat segera menyelamatkan diri pasca gempa bumi terjadi. Dampaknya yang begitu besar menjadi pelajaran penting bagi semua pihak mengenai berharganya peringatan dini dan informasi terkait tsunami.

Adanya informasi mengenai gempa bumi dan potensi tsunami yang bersumber dari Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) harus dimanfaatkan secara efektif terutama oleh masyarakat di sekitar lokasi terjadinya peristiwa tersebut. Karena ternyata masih ada perbedaan interpetasi di kalangan pemerintah daerah dan masyarakat ketika menerima pesan dan peringatan dini tsunami yang dikeluarkan oleh BMKG. Perlu adanya sinkronisasi pemahaman dalam menerima informasi peringatan dini sehingga early warning system yang berperan penting dalam mengurangi risiko bencana alam dapat berjalan efektif. Selain dapat meminimalisasi jatuhnya banyak korban, sistem ini juga dapat mengurangi dampak kerugian ekonomi dan material.

Sementara itu, peran media massa dalam menginformasikan atau memberitakan potensi gempa bumi ataupun tsunami selama ini sangatlah besar. Ancaman gempa bumi yang kerap berujung tsunami di Indonesia selama ini menjadi fakta sejarah yang tak terbantahkan. Oleh karena itulah, diperlukan kerjasama erat antara instansi yang berwenang dan media massa. Peran media dapat dikatakan menduduki posisi krusial dalam menginformasikan dan menyebarluaskan secara lebih lanjut mengenai bencana alam seperti tsunami, mengingat banyaknya wilayah rawan gempa bumi dan tsunami di Indonesia yang berada di kawasan pesisir dan terpencil. Dengan demikian, sistem peringatan dini bisa tepat sasaran dan berjalan efektif dalam langkah mitigasi.

BMKG menerbitkan informasi gempa bumi atau peringatan dini tsunami dalam waktu 5 menit setelah gempa yang kemudian diikuti oleh berita pembaharuan atau berita ancaman berakhir. Masyarakat bisa mengakses situs bmkg.go.id melalui internet. Sejauh ini sistem diseminasi informasi yang dinilai paling optimal yakni melalui pesan singkat (SMS) yang tertuju pada individu maupun institusi pemerintah. Warning melalui sms ditindaklanjuti dengan penyampaian ke masyarakat melalui berbagai fasilitas seperti televisi, radio, perintah berantai dari para pejabat sampai dengan pembunyian sirine di daerah berpotensi tsunami.

Harapan besar kita akan adanya InaTEWS agar benar-benar bermanfaat semaksimal mungkin dalam memberikan peringatan dini sebelum datangnya tsunami. Tidak hanya bagi masyarakat Indonesia, akan tetapi juga dapat dirasakan oleh publik internasional yang telah memberikan kepercayaan kepada negara kita. Tanpa adanya pemahaman dari masyarakat dan berbagai pihak, sistem ini tidak akan berjalan efektif.

Oleh Prayoga Ismail

Penulis adalah pengamat meteorologi dan geofisika, Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Stamet Biak.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s