CUACA EKSTREM PASCA BADAI HAGUPIT


Telah dimuat di Koran WASPADA, 12 Desember 2014

waspada3b

Cuaca Ekstrem Pasca Badai Hagupit

Musim penghujan 2014/2015 di Indonesia telah menimbulkan sederet bencana. Pada masa transisi awal musim, musibah tanah longsor dan banjir telah melanda sebagian wilayah Aceh, Sumatera, dan beberapa daerah lain nusantara, tak terkecuali daerah ibukota Jakarta. Pertengahan November lalu, angin kencang dan puting beliung mengamuk di daerah Klaten dan Sragen, Jawa Tengah. Awal Desember 2014, muncul embrio siklon tropis di utara kepulauan Indonesia yang tentu turut andil memperbesar risiko bencana di musim penghujan. Bencana hidrometeorologis terbesar itu menyimpan potensi cuaca ekstrem yang patut diwaspadai oleh masyarakat Indonesia terutama di sekitar jalur lintasannya, hingga menjelang klimaks musim hujan nanti yang diprediksikan terjadi pada bulan Januari hingga Februari 2015.

Pada pekan pertama Desember 2014, citra satelit Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mengungkap adanya bibit siklon tropis yang berkembang di perairan Samudera Pasifik sebelah utara Papua. Siklon tropis (tropical cyclone) ialah fenomena cuaca yang merupakan produk akhir dari pusat tekanan rendah di perairan tropis dipadu dengan efek Coriolis karena rotasi bumi. Berdasarkan laporan biro cuaca Filipina (PAGASA), siklon tropis yang diberi nama “Hagupit” tersebut telah menerjang Filipina, negara tetangga kita yang setahun lalu porak-poranda oleh “Haiyan”, badai yang disebut-sebut sebagai salah satu badai tropis terkuat sepanjang sejarah. Indonesia memang bukan menjadi rute persinggahan badai, akan tetapi aktivitas siklon tropis yang wara-wiri di sekitar Indonesia tentunya dapat mempengaruhi keadaan cuaca dan dinamika atmosfer.

Badai superkuat Hagupit yang menerjang Filipina merupakan badai berskala 3, setelah sebelumnya mencapai skala 5 pada 5 Desember lalu. Badai ini bergerak dengan kecepatan hingga 209 kilometer per jam menuju sisi timur Filipina. Negara tersebut telah bersiap menghadapi fenomena serupa dengan dampak badai Haiyan yang menerjang Filipina pada November 2013 lalu. Saat itu, lebih dari 7.000 orang tewas dan sebagian wilayah Filipina luluh lantak. Teranyar, badai Hagupit memicu hujan deras, banjir dangkal, longsor, dan angin kencang yang merobohkan jaringan listrik dan menghancurkan ribuan rumah. Kerusakan lahan pertanian mencapai 55.850 hektar. Dua orang dari 27 korban jiwa, tewas dikarenakan hipotermia ketika puncak badai terjadi pada 7 Desember. Sedikitnya satu juta orang telah dievakuasi ke daerah yang lebih aman. Filipina belajar dari pengalaman dan berkali-kali bangkit untuk membangun kesiapsiagaan menghadapi bencana semacam ini.

“Lampu Kuning” Cuaca Ekstrem

Masyarakat Indonesia boleh bersyukur dan bernafas lega karena ancaman badai tropis yang mematikan dan sangat merusak itu tidak akan menerjang negeri ini. Dihimpun dari data citra satelit jalur siklon tropis milik NOAA (National Oceanic and Atmospheric Administration), menunjukkan bahwa Indonesia adalah negara yang diapit oleh jalur siklon tropis dunia. Negara-negara yang berada sebelah utara dan selatan Indonesia adalah daerah yang dilalui siklon tropis dari skala terkecil hingga skala terbesar. Indonesia sama sekali tidak dilalui oleh jalur siklon tropis, namun justru perairan utara dan selatan Indonesia kerap kali menjadi pemicu awal terjadinya pusat tekanan rendah (doldrum) yang menjadi cikal bakal terbentuknya siklon tropis. Namun, selanjutnya siklon tropis akan menjauh dari Indonesia dan bergerak menuju ke daerah lintang subtropis.

Meski demikian, Indonesia tetap merasakan imbasnya apabila terjadi sikon tropis di sekitar perairan utara dan selatan nusantara. Pemerintah Indonesia melalui BMKG, BPPT, dan BNPB terus melakukan pemantauan dan pengkajian setiap saat serta mengeluarkan peringatan dini yang terintegrasi dalam InAWARE (Indonesia All Hazard Warning Risk Evaluation) bagi masyarakat di bagian utara Indonesia khususnya di Kalimantan, Sulawesi, Maluku, dan Papua. Balikpapan adalah contoh nyata imbas badai Hagupit. Minggu (07/12), pusaran angin berkecepatan 45 km/jam melintasi Balikpapan menumbangkan 10 pohon, rumah hancur berantakan, dan merobohkan menara pemancar radio. Masyarakat dihimbau untuk waspada terhadap perubahan cuaca fluktuatif dan cuaca ekstrem akibat pergerakan siklon tropis Hagupit.

Pemutakhiran terakhir, Badan Meterologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menginformasikan adanya siklon tropis Hagupit melintasi Filipina, daerah belokan angin di Aceh hingga Kalimantan bagian barat. Pumpunan angin (konvergensi) di Samudera Hindia sebelah selatan Jawa Tengah hingga barat Lampung. Kondisi kelembaban udara cukup tinggi di sebagian besar wilayah Kalimantan, Jawa, Sulawesi, dan Papua membuka peluang curah hujan di atas normal. Di Stasiun Meteorologi Biak (Papua), curah hujan jam 00.00 UTC atau 09.00 WIT yang terukur sebesar 101,5 mm pada 5 Desember menjadi contoh nyata betapa ekstremnya cuaca. Diprediksikan, wilayah Indonesia yang berpotensi hujan lebat adalah Sumatera Utara, Lampung, Bengkulu bagian selatan, Jawa Timur bagian selatan, Kalimantan Tengah bagian utara, Kalimantan Utara, Kalimantan Timur, Sulawesi Tengah bagian tengah, Nusa Tenggara Barat bagian timur, Nusa Tenggara Timur, Papua Barat, serta Papua bagian tengah dan utara.

Sementara itu, peringatan dini dampak siklon Hagupit akan menyebabkan hujan ringan hingga sedang berpotensi di Kalimantan Utara dan Kalimantan Timur bagian utara. Masyarakat khususnya nelayan diharapkan waspada terhadap tinggi gelombang laut 2-3 meter di perairan Kepulauan Anambas, Laut Natuna, dan Selat Karimata bagian utara. Bahkan gelombang laut dengan tinggi 4 meter terjadi di Laut Cina Selatan. Walaupun kekuatan badai Hagupit sudah melemah, tetaplah waspada dengan jalur angin konvergensi yang masih berpotensi menimbulkan cuaca ekstrem.

Menjelang akhir tahun 2014 dan menyongsong puncak musim penghujan, sudah seharusnya masyarakat Indonesia memiliki visi dan perencanaan yang lebih baik terkait bencana hidrometeorologis maupun bencana alam lainnya. Adanya siklon tropis sebagai bencana hidrometeorologis terbesar merupakan unsur penting dari alam untuk memindahkan panas dari daerah ekuatorial menuju daerah lintang yang lebih tinggi untuk menciptakan keseimbangan iklim dunia. Dibalik peristiwa pasti ada hikmahnya. Oleh karena itu, mari kita bangun negara Indonesia yang siap siaga bencana dan bijaksana terhadap alam. ***

Oleh Prayoga Ismail

Penulis adalah pengamat meteorologi dan geofisika, Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Stamet Biak.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s