MEWASPADAI BENCANA AWAL MUSIM PENGHUJAN


Telah dimuat di Harian ANALISA, 7 November 2014

analisa2a

 

Mewaspadai Bencana Awal Musim Penghujan

“Mencegah lebih baik daripada mengobati”. Itulah pesan yang patut dijadikan pengingat bagi seluruh masyarakat Indonesia yang sebentar lagi akan menyongsong musim penghujan 2014/2015 untuk membangun kewaspadaan dini. Mengingatkan pula akan bencana banjir musim penghujan periode satu tahun lalu yang melumpuhkan sebagian besar wilayah nusantara. Lalu bagaimanakah dengan kesiapsiagaan masyarakat Indonesia menghadapi awal musim penghujan kali ini? Nusantara kita yang rawan bencana perlu diwaspadai.

Belum sirna paparan kabut asap yang menyelimuti bumi Sumatera dan Kalimantan, dipadu dengan belum berakhirnya duka akibat bencana letusan Sinabung, kini masyarakat Indonesia harus dihadapkan dengan kemungkinan terjadinya bencana awal musim penghujan 2014/2015. Beberapa daerah di daratan Sumatera sudah merasakan dampak banjir sebagai bencana awal musim penghujan. Memasuki dasarian pertama November 2014, hujan deras rutin yang mengguyur sebagian wilayah Aceh dan Sumatera Barat telah memicu banjir. Adalah Aceh Besar, Banda Aceh, Aceh Barat Daya, dan Solok, sebanyak 6000 rumah terendam banjir dan 115 kepala keluarga mengungsi, jumlah ini diperkirakan bertambah karena masih dalam proses pendataan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB).

Seperti yang telah diprediksikan oleh Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), musim penghujan 2014/2015 mengalami kemunduran dari rata-rata yang biasanya terjadi pada minggu kedua bulan September. Rata-rata ini diperoleh dari kumpulan data 30 tahunan yang dihimpun dari tahun 1981 hingga 2010. Keterlambatan ini disebabkan oleh kondisi kelembaban udara Indonesia bagian tengah dan timur lebih rendah dari rata-ratanya dibarengi adanya aktivitas monsun Australia di selatan ekuator yang relatif masih kuat. Meski demikian, bencana banjir yang melanda sebagian Aceh dan Solok memberikan sinyal bahwa awal musim hujan patut diwaspadai. Belum lagi, intensitas curah hujan di atas normal diperkirakan akan mengguyur 8,5 persen wilayah Indonesia, diantaranya sebagian Sumatera.

Terletak pada posisi silang antara dua benua dan dua samudera, sejatinya Indonesia memiliki 342 zona musim (ZOM) dengan waktu awal musim hujan yang berbeda-beda. Sebanyak 11 zona musim di Sumatera mengawali musim hujan di bulan Oktober. Selain itu, 65 daerah non-ZOM juga memayungi bumi nusantara. Sebagian besar daerah ZOM Indonesia memasuki musim penghujan di bulan November. Dengan kondisi ini, Indonesia masih dihadapkan pada bencana awal musim penghujan. Aceh dan Solok menjadi penanda pertama yang merasakan dampaknya. Potensi bencana alam akibat faktor hidrometeorologis seperti cuaca ekstrem, banjir, tanah longsor, badai petir dan angin kencang masih mengancam sebagian besar wilayah Indonesia.

Langkah Antisipatif

Terjangan banjir yang terjadi di sebagian Aceh dan Solok sebenarnya sudah bisa diprediksi. Berdasarkan prakiraan awal musim hujan oleh BMKG, musim hujan 2014/2015 di Indonesia diawali dari Sumatera bagian utara, bergerak ke Sumatera bagian barat, dan selanjutnya ke arah selatan. Berkaca pada peristiwa ini, ada baiknya masyarakat memanfaatkan informasi seputar perkembangan cuaca, iklim, geohazard dan peringatan dini bencana alam yang diberikan oleh Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), baik informasi yang bersifat nasional maupun lebih khusus bagi daerahnya. Situs bmkg.go.id dapat diakses dengan mudah melalui internet. Masyarakat juga bisa mendatangi kantor BMKG terdekat untuk mendapatkan kejelasan informasi mengenai awal musim penghujan di daerah setempat.

Sudah saatnya masyarakat Indonesia beralih dari budaya “mengobati” ke arah budaya “mencegah” dalam menghadapi bencana awal musim penghujan. Tanpa menanti banjir datang, tidak ada ruginya masyarakat bertindak antisipatif. Beberapa langkah yang bisa dipersiapkan antara lain dalam rupa pembangunan waduk sebagai penampungan air, memperbaiki sanitasi, memulai penghijauan, membersihkan selokan dan gorong-gorong serta meninjau ulang daerah aliran sungai. Sementara, untuk menangkal cuaca ekstrem badai petir, masyarakat bisa memasang penangkal petir di atap rumah.

Mewaspadai adanya potensi tanah longsor akibat tingginya curah hujan agaknya masyarakat bisa mengantisipasinya dengan memanfaatkan informasi pemetaan daerah-daerah rawan longsor yang disusun oleh Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) setempat. Pemetaan ini dibuat berdasarkan statistik curah hujan dan keadaan topografi wilayah. Selain itu, penguatan infrastruktur penanggulangan bencana dan identifikasi jumlah tanggul yang kritis dan rawan jebol sangatlah penting guna mencegah banjir dan tanah longsor.

Peran pemerintah setempat pun diharapkan agar lebih siap dalam memaksimalkan berbagai upaya pencegahan dalam membangun early warning system (peringatan dini) dan kesiapsiagaan semua pihak dalam penanganan terhadap bencana. Program perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup dapat direalisasikan dalam rupa pembuatan sumur resapan dan pembuatan biopori. Namun, apabila bencana awal musim hujan tersebut masih tak terbendung, maka pemerintah dan masyarakat harus bersinergi untuk mengadakan langkah mitigasi. Upaya mitigasi dimaksudkan untuk memperkecil, mengurangi, bahkan meniadakan berbagai akibat yang ditimbulkan oleh bencana. Dibutuhkan komitmen, kerjasama, dan kesadaran semua pihak.

Manusia memang tidak tahu kapan bencana itu datang, akan tetapi dengan melakukan langkah antisipatif tentunya diharapkan bisa “menangkal” terjadinya bencana awal musim penghujan tersebut. Semoga musim penghujan kali ini tiba tanpa membawa duka, bencana dan problematika. ***

Oleh Prayoga Ismail

Penulis adalah pengamat meteorologi dan geofisika, Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s