MENGKAJI CUACA KABUT ASAP


– Telah dimuat di Harian ANALISA, 6 Oktober 2014

analisa1a

Mengkaji Cuaca Kabut Asap

Masyarakat dua pulau besar Indonesia, Sumatera dan Kalimantan sedang hidup berkalang kabut asap. Adanya peningkatan status “darurat” menjadi “tanggap darurat kabut asap” pada 27 Februari 2014 di Provinsi Riau dan disusul oleh Provinsi Kalimantan Tengah pada 23 September 2014 memberikan isyarat. Meningkatnya jumlah titik api membuat warga Sumatera Selatan, Riau, Jambi dan sebagian besar Kalimantan tidak bisa menghirup segarnya udara. Tak hanya itu, negara tetangga Singapura dan Malaysia juga mengeluhkan dampak kabut asap kiriman dari Indonesia. Peristiwa kabut asap ini jelas merugikan dari berbagai segi, baik segi ekonomi maupun segi ekologi, hingga mempengaruhi aspek kecuacaan daerah tersebut.

Kebakaran hutan dan lahan terus terjadi. Tanggal 15 September lalu, satelit Modis Terra dan Aqua milik Badan Antariksa Amerika Serikat (NASA) mengungkap bahwa seribuan hotspot membara di Kalimantan dan Sumatera. Sebanyak 1.019 titik api mengepung Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Selatan. Sementara, 595 titik api mengepung Sumatera Selatan, Riau, dan Jambi. Dikhawatirkan titik api semakin meluas dan sebaran kabut asap mengganggu aktivitas warga.

Titik panas (hotspot) merupakan indikator bahwa telah terjadi kebakaran hutan dan lahan di suatu wilayah. Sejarah kebakaran hutan ini berlangsung sejak tahun 1997. Berdasarkan data Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), wilayah yang paling rentan kebakaran adalah lahan gambut di Sumatera dan Kalimantan. Jika melihat fenomena tahun 2014, sejak Februari sampai bulan Juni, baik di Sumatera maupun Kalimantan, jumlah titik api cenderung meningkat dibandingkan delapan tahun sebelumnya. Kabut asap bukan hanya disebabkan karena kebakaran hutan dan lahan, tapi juga karena kemarau berkepanjangan yang berisiko kekeringan.

Secara nyata, dampak yang paling terasa akibat peristiwa kabut asap ini adalah hilangnya kebebasan masyarakat untuk menghirup udara segar. Dalam jangka waktu yang lebih lama bukan tidak mungkin apabila terjadi gangguan massal Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA). Terlebih lagi, kabut asap juga merenggut kebebasan beraktivitas, ke mana-mana harus memakai masker. Kegiatan sekolah yang dilakukan di luar kelas seperti olahraga terpaksa harus dipindahkan di dalam ruangan, bahkan ditiadakan. Roda ekonomi warga juga menjadi terbatas.

Cuaca dan Mitigasi

Secara meteorologis, kabut (fog) merupakan titik-titik air yang sangat kecil yang terjadi dari uap air yang mengalami kondensasi dan melayang-layang rendah di atas permukaan tanah. Jika kabut ini bercampur dengan asap (smoke) atau gas sisa pembakaran maka akan menjadi smog, yang biasa disebut kabut asap. Smog tergolong jenis aerosol padat dan aerosol cair yang menimbulkan pencemaran udara berat, bisa terjadi berhari-hari hingga hitungan bulan.

Kualitas udara di daerah sebaran kabut asap sangatlah buruk. Tanggal 21 September lalu, berdasarkan Indeks Standar Pengukur Udara (ISPU), kualitas udara Kota Palembang mencapai angka 442. Padahal, batas normal ISPU adalah 300. Hal ini mengindikasikan bahwa kondisi yang sedemikian sangat berbahaya bagi manusia. Belum lagi adanya kabut asap ini terasa pedih di mata.

Dalam ilmu cuaca (meteorologi), kabut asap (smog) menjadi salah satu peristiwa cuaca yang signifikan dan wajib dilaporkan sebagai cuaca pada saat pengamatan (present weather). Ada tujuh parameter penting dalam pengamatan cuaca, yaitu suhu udara, suhu titik embun, kelembaban udara, tekanan udara, arah dan kecepatan angin, jarak pandang (visibility), dan cuaca (present weather and past weather). Adanya peristiwa kabut asap saling mempengaruhi dengan parameter cuaca lainnya terhadap batas normal yang ada. Suhu permukaan dan kelembaban udara teramati meningkat.

Faktor angin menjadi yang paling dominan dalam penyebaran kabut asap. Saat ini, bertiup angin muson timur yang melalui wilayah Indonesia. Dalam perjalanannya, angin tersebut turut membawa partikel aerosol di udara termasuk kabut asap. Selain itu, perbedaan tekanan udara dalam lingkup lokal Sumatera dan Kalimantan juga mempengaruhi bertiupnya angin. Arah angin cenderung ke barat dan barat laut, yang berarti sebaran kabut asap tak hanya melingkupi Sumatera bagian selatan dan Kalimantan, tapi juga akan sampai di Singapura dan Malaysia. Selama musim kemarau bisa diprediksi bahwa kabut asap akan terus menyelimuti daerah-daerah tersebut.

Kabut asap juga berdampak menurunkan jarak penglihatan mendatar (visibility). Berdasarkan data yang dihimpun dari kantor BMKG setempat, jarak pandang di Riau terpantau 800 meter. Lebih parah lagi, visibility di Kalimantan Tengah tersisa 30 meter karena begitu pekatnya kabut asap. Upaya pengguna jalan menembus kabut asap dengan menyalakan lampu juga tidak terlalu mempengaruhi. Peristiwa ini semakin membatasi aktivitas masyarakat di sekitarnya, tak terkecuali aktivitas penerbangan di bandara. Di Bengkulu, aktivitas penerbangan terhenti karena jarak pandang terbatas 200 hingga 500 meter. Visibility menjadi salah satu faktor penentu apakah sebuah pesawat diperbolehkan untuk terbang ataukah tidak. Jika kondisinya buruk seperti ini, penerbangan harus ditunda menanti nilai visibility membaik. Karena keselamatan penerbangan bergantung pada faktor ini.

Menyikapi berbagai dampak yang ditimbulkan oleh kabut asap ini, ada baiknya masyarakat dan pemerintah melakukan langkah mitigasi. Upaya mitigasi dimaksudkan untuk mengurangi, memperkecil, bahkan meniadakan berbagai kerugian akibat yang ditimbulkan bencana ini. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) yang bekerjasama dengan Badan Pengkajian dan Pengembangan Teknologi (BPPT) sejak awal melakukan upaya mitigasi, diantaranya dengan memodifikasi cuaca untuk menurunkan hujan dan melakukan water bombing untuk memadamkan titik api. Akan tetapi, langkah yang ditempuh terbilang kurang efektif guna memadamkan seluruh titik api yang jumlahnya ribuan itu.

Pemerintah Indonesia melalui instansi Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memiliki stasiun pengamat cuaca yang tersebar di seluruh pelosok tanah air. Badan ini menginformasikan perkembangan cuaca, arah dan kecepatan angin, visibility, dan sebagainya sangat membantu masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan dini. Untuk mendapatkan informasi terkini seputar cuaca, persebaran kabut asap, gempa bumi, tsunami dan peringatan dini lainnya, masyarakat bisa mengakses dengan mudah situs bmkg.go.id melalui internet. Untuk mengetahui perkembangan mutakhir persebaran titik api (hotspot), masyarakat bisa memantau melalui data satelit Modis Terra dan Aqua secara realtime.

Adapun langkah tanggap darurat yang bisa dilakukan masyarakat terhadap bencana kabut asap yakni dengan mengenakan masker, selalu menyalakan lampu ketika berkendara, dan mengurangi aktivitas di luar ruangan. Upaya mitigasi pemerintah pun harus terus dilakukan demi memperbaiki kualitas udara, memulihnya aktivitas warga dan berbagai hal lain demi berakhirnya duka ketika hidup berkalang kabut asap. ***

Oleh Prayoga Ismail

Penulis adalah pengamat meteorologi dan geofisika, Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s