” DI ANTARA LINANGAN AKSARA ”


Di Antara Linangan Aksara
“ Prayoga Ismail “

Lonceng berdentang, Aldo dan beberapa orang lainnya dengan segera memasuki gereja untuk berdoa. Mereka duduk di atas kursi yang tersusun rapi. Aldo pun mulai termenung. ”Tuhan, terima kasih atas segala yang telah Engkau berikan kepada kami kemarin, hari ini, besok, dan selamanya. Semoga Engkau selalu menyertai kami Tuhan. Amin”, renungnya dalam hati.  Tak lama kemudian, gerimis datang memecah sunyi dalam gereja. Datangnya yang tiada pertanda, membuat semua orang terhenti sejenak melagukan syair-syair rohani. Seiring detak waktu yang terus berlalu, akhirnya gerimis pun henti. Usai berdoa, Aldo pun bergegas pulang. Ya, pulang kampung, karena mulai besok SMA nya libur seminggu lebih berhubung adanya ujian nasional dan ujian sekolah yang akan dihadapi oleh kakak kelasnya.

Seperti biasa, ia pun menanti sebuah kereta jurusan Jakarta-Solo di stasiun. Banyak diantara pedagang yang berlalu-lalang menjajakan air mineral, nasi bungkus, dan makanan ringan. Namun, tiada satupun yang dibeli olehnya. Pukul 09:00 WIB kereta listrik jurusan Jakarta-Solo pun tiba. Aldo menyodorkan tiket, dan dengan terkejut perlahan ia masuk gerbong ekonomi itu. Ia kira ada banyak orang akan menggunakan jasa darat itu, akan tetapi justru jumlah penumpangnya hari itu bisa dihitung dengan jemari tangannya. ”Tidak biasanya seperti ini. Ada apa ya ? Apakah tiketnya terlalu mahal bagi mereka?”, gumamnya dalam hati. Pagi itu terlihat tak biasa bagi Aldo. Ia pun duduk di atas kursi panjang sebelah kiri paling ujung gerbong itu. Beberapa orang terlihat sibuk dengan ponsel mereka, ada pula seorang bapak yang tengah asyik membaca berita terhangat dari koran hari ini. Aldo hanya diam dan sesekali menenggak air dari botolnya untuk mengusir kehausan. Kereta pun mulai memutar roda besinya dengan percepatan yang terus bertambah.

Suasana di atas kereta itu pun senyap bagai kuburan. Yang terdengar hanyalah suara roda besi yang memuai bergesekan dengan rel. Aldo mulai menjalankan hobinya. Selembar kertas dan sebuah pena telah digenggamnya. Ia mulai menggores dengan pelan sembari merasakan apa yang ada di dalam hatinya. Sebuah puisi mungkin akan menumpahkan emosinya di antara linangan aksara itu. Tiba-tiba, gadis berjilbab yang sedari tadi terlihat membaca novel Edensor kini mulai beranjak dari tempat duduknya. Ia mendekati Aldo dan duduk di samping kanannya. Gadis itu pun mencoba membuka dialog dengannya. “Boleh duduk di sini ?” tanya gadis itu membelah kesenyapan. “Ehm, boleh-boleh. Silakan.” jawab Aldo. “Maaf mengganggu. Mas penulis ya ? Di atas kereta begini masih sempat menulis ?” tanyanya lagi. Aldo menjawab, “ Apa, penulis ? Bukan. Saya hanya hobi menulis.”. “Ngomong-ngomong, nama mas siapa ? Saya Kina.” tandasnya. “ Panggil saja saya Aldo, kita kan seumuran. “ sahutnya. “Baiklah, Aldo. Kenapa hobi kamu menulis ? Kan banyak hobi-hobi lain yang lebih menarik, sepak bola misalnya. “ tanya Kina. “Berawal dari sebuah cerpen, tak tahu kenapa aku sangat ingin membacanya. Waktu itu, aku sama sekali tidak menyukai apa itu cerpen. Tapi, semenjak aku membaca sebuah cerpen milik temanku itu rasanya aku sangat tertarik sekali pada cerpen itu. Ingin rasanya menumpahkan segala isi hatiku lewat tulisan terutama cerpen. Sampai akhirnya, sekarang aku juga hobi menulis puisi.“ jelas Aldo kepada seorang gadis yang duduk di sampingnya itu. Mereka berdua makin akrab berbicara. Padahal penumpang lain telah menikmati alam mimpinya.

 

Di tengah perjalanan, kereta itu tiba-tiba terhenti sekejap. Semua penumpang kaget hingga terbangun dari tidurnya. Barang-barang jatuh dari kotak penyimpanan. Di depan, terlihat beberapa orang berusaha menghentikan laju kereta. Mereka menggedor-gedor gerbong kereta hingga salah satu pintunya rusak dan patah. Orang-orang berpenampilan aneh itu mungkin seumuran dengan Aldo, tapi mereka kurang beruntung. Mereka terlanjur hidup dengan kerusuhan, terlihat spanduk-spanduk demonstrasi masih dalam genggaman mereka. Awalnya mereka hanya berniat akan berunjuk rasa pada sekolah-sekolah yang tidak menggratiskan biayanya. Akibatnya, mereka tidak diperbolehkan mengikuti ujian nasional dan ujian sekolah. Bahkan, kebanyakan dari mereka dikeluarkan dengan tidak hormat. Akan tetapi, mereka telah hilang kesabaran karena tak ada tanggapan dari sekolah dan pemerintah. Mendengar cerita itu, Aldo berusaha memberi saran kepada mereka. Namun, salah seorang dari mereka menodongkan clurit di leher Aldo, ia pun tak kuasa melawan. Mereka mengancam siapapun yang mencegah aksi ini akan dibunuh sekarang juga. Seorang laki-laki paruh baya berusaha melawannya, tapi clurit segera menembus perutnya. Semua penumpang kini ketakutan. Kereta itu bak tempat pembantaian bagi mereka. Dua penumpang tewas seketika. Kina berteriak dalam tangisannya, “Apa yang kalian lakukan ? Kalian kejam! Hentikan semua ini! Aku mohon.” Seorang dari mereka mendekat dan melototinya, ia pun menghunus clurit tajamnya. Sebelum ia tusukkan ke arah Kina, Aldo berteriak, “Jangan! Jangan sakiti kami. Kami tidak tau masalah ini. Tapi, kenapa kalian kejam kepada kami ?” Seorang dari mereka menjawab, “Karena kami iri kepada kalian. Kalian bisa sekolah, sedangkan kami tidak! Padahal kami telah berusaha, tapi kenapa ??? kenapa???Persetan!”. “Aku mohon jangan bunuh kami. Aku bersedia membantu kalian.”, hardik Aldo.  “Ya, aku juga akan membantu kalian! Tapi, aku mohon jangan bunuh kami!” Kina mengais. “Baiklah. Kalian harus ikut kami demo! Dan kami harus bisa sekolah kembali!” sentaknya.

Magis, gerimis nan ritmis mengakhiri pembantaian siang itu. Lantai kereta bercucuran darah, dua mayat tewas terlentang. Sisanya harus menuruti kemauan mereka. Aldo dan Kina selamat. Kereta pun akhirnya sampai di stasiun Solo. Di sana pun tak jauh berbeda, keadaan sepi sunyi. Para penumpang berusaha melarikan diri. Namun, justru Aldo dan Kina tetap berada di antara mereka. “Kenapa kalian tidak lari ?”, tanya seorang dari mereka. “Kami sudah berjanji untuk membantu kalian dan kalian sudah mau membebaskan kami” jawab Aldo. “Benar, kami harus menepati janji kami. Kalau boleh tahu, siapa namamu ?” sahut Kina. “Aku Hendi, pemimpin gerakan ini.” jawabnya. “Aku mau membantu kalian, tapi dengan satu syarat. Jangan demonstrasi.” jelas Aldo. “Apa kau bilang ! Akan kubunuh kalian berdua!” tegas Hendi. “Bagaimana kalau kita menulis?” usul Aldo. “Kau mau melawan? Haaa!! Buat apa menulis!” sentak Hendi. Aldo berniat mengusulkan untuk menyampaikan gagasan mereka dalam bentuk tulisan. Tapi, mereka salah paham. Mereka berkutat itu tidak akan pernah bisa menyuarakan gagasan mereka. Tapi, Kina dan Aldo berusaha membujuk mereka untuk mengendalikan emosi mereka. Esok hari mereka berencana untuk berunjuk rasa di depan gedung Kemendiknas Solo. Malam telah datang, mereka pun tidur di jalanan. Aldo menyempatkan diri sejenak tuk menulis sebuah puisi.

Saat tengah malam, Kina terbangun dari tidurnya. Ia hendak membangunkan Aldo dan mengajaknya untuk melarikan diri. Karena menurutnya, mereka tidak mau diajak untuk meredam emosi. Akan tetapi, mereka mendengar gerak langkah Kina dan Aldo yang berusaha melarikan diri. Hendi membangunkan semua kawannya untuk mengejar Kina dan Aldo yang tengah berlari sekencang-kencangnya. Tiba-tiba Aldo menghentikan langkahnya, sementara Kina masih berlari kencang. Tersadar bahwa Aldo telah berhenti, ia pun berhenti. Namun, saat ia menoleh ke belakang, ia mendapati Aldo telah tertangkap Hendi.. “Aldo! Lari Aldo!” teriak Kina. “Tidak, kau saja. Lari sejauh mungkin. Sebentar lagi aku akan mati.” teriak Aldo. “Kenapa Aldo? Kau tahu? Aku sangat mencintaimu. Sejak pertama kita bertemu!!!” perlahan air matanya menetes. “I love you too, Kina. Aku juga sayang kamu. Tapi, sekarang sudah berakhir. Aku punya sebuah puisi untukmu. Aku menaruhnya di tasmu tadi. Simpan baik-baik ya! Jangan sampai hilang!” teriak Aldo di antara tangisnya. Hendi sudah tak sabar. Ia tusukkan dengan geram clurit itu ke dalam perut Aldo lalu menghunusnya kembali. Ia pun  melarikan diri. Mendengar teriakan-teriakan itu, semua orang di sekitar jalan menghampiri mereka. Kina pun serasa tak kuat berlari. Air matanya mengiringi setiap langkahnya menuju Aldo. Saat menatap Aldo telah tiada, semakin deras air matanya mengalir. “Aldooo… Aldooo…. Kenapa bisa begini….. Aku mencintaimu…..” teriaknya sambil berderai air mata.

Malam itu menjadi malam yang paling kejam baginya. Sesampainya di rumah, ia langsung mengurung diri di kamar. Ia menangis tiada hentinya. Lalu ia buka lembaran puisi dari Aldo untuknya. Di atas linangan-linangan aksara itu, ia akan selalu mengingat Aldo. Dengan sergap, ia menuntun dirinya, menghapus air matanya, mengambil air wudlu dan bergegas shalat tahajud. Ia berniat mendoakan Aldo. Walaupun sehari saja ia bersamanya, namun rasa cinta itu tak akan  pudar sepanjang hidupnya. Pun dia berbeda agama, ia yakin ia akan bahagia di sana. Dan ia akan selalu mengingatnya bersama linangan aksara kenangan darinya.

Pati, 22 Januari 2012

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s