” IKLIM INDONESIA YANG BERMETAMORFOSA “


Iklim Indonesia yang Bermetamorfosa

” Prayoga Ismail “

Iklim memang tengah mengalami perubahan. Perubahan itu semakin jelas ditandai dengan indikator-indikator alam yang bisa kita rasakan sehari-hari. Adalah sebagai contoh, mulai dari peningkatan interval suhu harian, mencairnya es abadi di kedua kutub, hingga makin jauhnya amplitudo temperatur antara siang dan malam. Khususnya bagi negeri khatulistiwa yang terbentang luas dari 60 LU hingga 110LS kini tengah mengalami metamorfosa iklim. Apa itu metamorfosa iklim ? Pada dasarnya, iklim berarti kondisi rata-rata cuaca pada suatu wilayah yang diakumulasikan dalam waktu yang panjang (Naufal, 1991). Sedangkan metamorfosa berarti perubahan dari suatu fase ke fase lain. Dari pengertian tersebut bisa kita simpulkan bahwa metamorfosa iklim singkatnya adalah perubahan iklim. Jadi, apabila terjadi metamorfosa iklim berarti ada keterkaitan beberapa faktor yang memicu perubahan itu. Diantaranya ialah banyak sedikitnya vegetasi, relief bumi, lama penyinaran cahaya matahari, kondisi atmosfer, curah hujan, hingga tak lepas dari peranan manusia.

Lalu apakah sebenarnya yang menjadi kontributor terbesar dari metamorfosa iklim khususnya di Indonesia ? Jawabannya tentu saja manusia. Karena apa, manusia lah yang melakukan kegiatan-kegiatan untuk menunjang hidupnya yang tanpa mereka sadari bisa menyebabkan hal-hal tak diinginkan termasuk perubahan iklim. Diduga, kegiatan manusia yang paling mempengaruhi perubahan besar ini adalah pemakaian bahan bakar fosil yang makin membengkak setiap harinya semisal penggunaan kendaraan bermotor yang kian melambung dan polusi oleh asap pabrik. Selain itu revolusi besar-besaran di Eropa yang biasa dikenal “revolusi industri” pun ikut mendulang. Pemicu besar tersebut kemudian akan berimbas pada pemanasan global yang secara khusus berdampak pada perubahan iklim. Selain itu, ada kasus-kasus kecil yang menjadi pemicu lain. Adalah sebagai contoh, pergerakan aktif lempeng benua IndoAustralia dan lempeng Eurasia yang setiap tahunnya selalu mengalami pergeseran hingga beberapa meter dari titik semula. Pergeseran yang umumnya kita kenal sebagai gempa bumi atau seisme ini jelas akan mengubah tata geografis dan letak astronomis wilayah Indonesia. Dilihat dari pembagian iklim, daerah tropis berada pada lintang 00-23,50LU dan LS. Namun kini, Indonesia telah bergeser dari titik mula. Pantas saja bumi kita ini rasanya kian hari kian membuat kita sengsara, namun ternyata kita sendirilah penyebabnya.

    Lantas sejauh manakah dampak metamorfosa iklim tersebut ? Akibatnya iklim Indonesia kian hangat semenjak abad 20, dengan suhu rata-rata tahunan kini yang meningkat sebesar 100C di atas tahun 1961-1990. Dibuktikan pada tahun 2003, Edvin Aldrian membagi iklim Indonesia menjadi tiga daerah iklim, yakni daerah Selatan, daerah Utara-Barat, dan daerah Moluccan yang masing-masing mengalami penurunan curah hujan sebesar 2-3% dan kenaikan temperatur mencapai 2-8%. Bayangkan saja, betapa panasnya bumi kita sekarang. Betapa besarnya perubahan iklim di negeri kita.

    Jelaslah bahwa metamorfosa iklim di Indonesia tengah mencapai masa inkubasi. Lalu apakah kita akan terus membiarkan siklus metamorfosa ini mencapai titik klimaksnya? Jika tidak, lakukanlah upaya-upaya yang setidaknya bisa mereduksi efek samping dari metamorfosa ini. Beberapa hal yang bisa kita lakukan sekarang mungkin adalah menanam pohon. Layaknya slogan yang digunakan Kementrian Kehutanan kini yakni “banyak pohon banyak rejeki.” Bisa ditafsirkan  bahwa dengan menanam pohon berharap besar untuk memangkas dampak-dampak konkret maupun laten terhadap alam sekaligus menabung oksigen dan persediaan air untuk esok. Selain itu, kita harus mengurangi penggunaan bahan-bahan polutan yang berimbas baik jangka panjang maupun pendek terhadap alam kita yang tak lain ialah bahan bakar dan energi. Selanjutnya kita harus menemukan inovasi melalui teknologi yang ramah lingkungan sekaligus bisa menggeser dan meminimalisir dampak perubahan iklim.

    Semoga saja, metamorfosa iklim tidak akan ngelantur dan kebablasan dimana kita tidak pernah sadar bahwa iklim kita tengah bermetamorfosa. Akan tetapi, waspada dan cepat  bertindak mengatasi perubahan ini adalah kebijakan yang nyata. Semoga, Tuhan pun memberikan kemampuan kepada kita untuk bisa.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s