” MORALITAS YANG TERANCAM MORTALITAS “


Moralitas Yang Terancam  Mortalitas

“ Prayoga Ismail “

Dewasa ini, badai mortalitas mulai mengancam kehidupan. Salah satu sasaran yang telah lama diincarnya ialah moralitas, baik moral kebangsaan maupun moral individual. Peliknya, masalah tersebut makin marak seiring dengan pesatnya pertumbuhan global. Munculnya kematian moral mulai terlihat semenjak bergulirnya orde reformasi yang pada saat itu masyarakat Indonesia sangat antusias melakukan vandalisme pada berbagai bidang kehidupan, tak terkecuali moralitas. Akan tetapi, justru mereka sendiri tidak pernah menyadari bahwa moralitas yang telah menjadikan diri mereka dewasa ikut terbunuh oleh ulahnya.

Pada dasarnya, moralitas berarti bahwa suatu nilai yang dianggap absolut oleh manusia sebagai indikator baik atau buruknya tindakan manusia itu. Itu artinya moralitas adalah salah satu penentu kadar kemajuan yang harus dipenuhi untuk mencapai perfection atau kesempurnaan. Tapi, bagaimana dengan realitanya ? Moralitas bangsa kita seolah mengambang di atas dinamika kehidupan lain yang lebih dipentingkan. Mungkinkah moralitas sudah tidak diperlukan lagi oleh bangsa ini ? Lihatlah, apa inti berita yang tersaji hingga hari ini ? Adalah sebagai contoh, tawuran antar pelajar. Nah, yang satu ini tampaknya telah diwariskan secara turun-temurun oleh budaya kerusuhan. Bukankah hal tersebut sangat merugikan semua pihak. Seperti halnya, nama suatu bangsa yang besar tiba-tiba saja tercoreng oleh dekadensi moral kecil yang pada akhirnya berimbas pada persoalan besar. Ditambah lagi, merosotnya dekadensi moral pun mewabah para pemimpin negeri. Adalah sebuah contoh, tak hanya dilakukan oleh segelintir orang, namun sekaligus secara berjamaah melakukan tindakan korupsi, kolusi, dan nepotisme. Ironisnya, tidak ada penanganan serius mengenai kasus itu, yang ada hanyalah perlakuan istimewa bagi “mereka”. Seolah apapun yang berbau moralitas, tampak samar oleh pemikiran maupun perkiraan bangsa kita. Indonesia, dekadensi moral kian menjalar begitu leluasa, namun dipandang sebelah mata.

Lalu apakah yang menjadikan bangsa Indonesia semakin kehilangan jati dirinya. Padahal adat ketimuran yang dianutnya selalu mengedepankan moralitas untuk membentuk kepribadian bangsa. Bisa jadi, nilai-nilai luhur kepribadian Pancasila telah dianggap kuno. Hal ini jelas terbukti karena di tengah melesatnya dimensi kehidupan lain, moralitaslah yang masih berjalan terseok-seok. Bisa dikata, pendidikan moral Pancasila telah gagal membentuk pribadi yang bermoral. Atau memang tidak ada lagi pendidikan yang mengedepankan moralitas. Faktanya, ketiadaan moral bisa membredel intelektual maupun dimensi hidup lain. Adalah sebagai contoh, seseorang yang memiliki intelektual tinggi kemudian setelah tumbuh dewasa ia malah menjadi pengancam negeri atau yang kerap disebut sebagai teroris. Coba bayangkan, apabila semua generasi penerus bangsa yang memiliki kemampuan lebih, justru menjadi ancaman yang bersifat mematikan. Betapa pentingnya moralitas belum dianggap penting oleh bangsa ini. Jelaslah bahwa moralitas bangsa kita kian terancam mortalitas, karena yang menjadikan mortalitas adalah manusia itu sendiri.

Perlu adanya suatu perubahan, dan tentunya bukan hanya slogan-slogan politik busuk yang terpampang sia-sia. Tapi perubahan itu harus bersifat membangun bangsa tanpa melupakan moralitas. Diantara perubahan itu, pendidikan moral merupakan elemen dasar untuk membangun moral yang berkualitas. Akan tetapi, pendidikan modern tidak lagi menempatkan pendidikan moral sebagai substansi dalam ilmu-ilmu yang diajarkan. Pendidikan modern terlebih mengutamakan ranking dalam prestasi sebagai tolok ukur yang dinilai sarat dan kurang memperhatikan unsur moralitas. Hal ini berbanding terbalik dengan sistem pendidikan tradisional masyarakat Indonesia yang memandang moralitas sebagai prioritas yang perlu diperhatikan, terutama moral agama. Yang pada akhirnya bisa membentuk pribadi seutuhnya. Namun yang terjadi sekarang ini, kepribadian yang terbentuk hanyalah separuhnya, bukan seutuhnya. Sebab separuhnya lagi yaitu moralitas yang dianggap kurang berbobot. Ya sudahlah, segalanya menjadi serba terbolak-balik. Yang awalnya salah sudah dibenarkan, tapi yang awalnya benar malah disalahkan. Itulah Indonesia. Akan tetapi, kita boleh sedikit bernafas lega. Pasalnya, pemerintah Indonesia kembali memasukkan pendidikan karakter dan moralitas dalam substansi kurikulum terbaru. Akhirnya sadar juga. Mereka baru saja terbangun dari ranjam empuk setelah menyadari bahwa semuanya telah hancur dikarenakan moralitas yang kian terancam mortalitas.

Semoga saja, manusia yang bermoral bukan lagi menjadi manusia langka di Indonesia. Dan sesegera mungkin moralitas bisa memperoleh hidup kembali pasca kematiannya yang sempat mericuhkan dunia.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s