” BINTANG, KE MANA KEKASIHKU ? “


BINTANG, KE MANA KEKASIHKU?… [CERPEN]

” Prayoga Ismail ”

 

Tersirat sebuah peraduan seorang diri di kala malam yang sangat mencekam. Di tengah musim yang beranomali, terbuai hati yang tak menentu. Petir saling sambar-menyambar akibat gesekan panas yang bersua, pudarlah pesona malam itu. Alam pun mulai menitikkan air matanya. Apalah semua ini. Menuai buah-buah bola mata yang membusuk. Galau hati tak terbayang, datang menghujam di semak- semak belukar. Tersembunyi di balik sebuah peraduan. Peraduan akan nasib yang tak mujur. Inikah korelasi atas semua kesedihan yang tak terbendung asalnya. Alam pun turut bersedih atas semua ini.

Melihat ke atas sana, sebuah bintang yang sangat indah menawan berbicara kepadanya. Ia mengadukan kepada bintang hal kekasihnya. Kekasih sang pujaan hati yang sudah lama tak bersamanya. Sendy, sebut saja namanya. Ia masih shock berat ketika kekasihnya, Yoga tiba-tiba saja meninggal karena penyakit jantung koroner yang dikenal kronis dan mematikan itu. ”Mengerikan bukan? Apa mungkin Yoga masih mengingatku di sana?? Jawab!jawab!”, itulah yang ia katakan kepada bintang Aries yang tak lama kemudian jatuh di tepian sungai dekat rumahnya. Hujan mulai meredakan tangisnya dan ia pun seorang diri masih terpaku di teras rumahnya malam itu, sendirian. Ia hidup sendiri, hanya ditemani kakaknya yang baru saja lulus kuliah dan kini telah bekerja. Karena orang tuanya harus pergi membanting tulang di negara Sakura, jauh terpandang. Mulai mendekat, dan tampaklah cahaya kuning yang terpancar dari bintang itu. Mengejutkan, bintang itu berbentuk jantung hati. Ia belum pernah melihat seperti itu sebelumnya, namun tak jarang ia melihat secara langsung benda-benda antariksa dengan teropong bintang buatan Yoga. Setiap malam ia selalu teringat sosok Yoga yang baik, lucu, manis, pintar, tiap kali ia memegang teropong bintang itu untuk melihat pesona angkasa di langit. Pernah sesekali muncul bayangan wajah Yoga terlukis indah mengudara di langit. Ia mencoba mengambil pecahan-pecahan bintang yang berbentuk hati dengan ranting pohon. Kemudian, ia menyimpannya dan segera masuk ke dalam kamar. Sendy menganggap ini sebuah isyarat, entah isyarat apa itu, mungkin juga jawaban atas segala pertanyaan tentang Yoga yang setiap malam ia lontarkan kepada bintang. ”Yoga, aku yakin kau masih ingat diriku.”, kata Sendy. Malam sudah larut, ia pun tertidur memeluk erat pecahan bintang hati.

Esok hari seperti biasanya, Sendy berangkat menuju sekolahnya yang berjarak sekitar 7 km dari rumahnya. Pulang dan pergi, ia harus mengayuh pedal sepeda bututnya itu. Hari ini adalah Hari Valentine, biasanya Sendy selalu mendapat kiriman coklat ataupun seikat bunga Dandelion dari kekasihnya, Yoga. Tahun ini sangat berbeda dengan sebelumnya, tak ada Yoga sepi hatinya. Apa artinya Valentine baginya sekarang? Tak ada kata romantis bahkan spesial yang dulu sempat terngiang di benaknya, bahkan kini terasa begitu mengenaskan baginya. Tiba-tiba ada seorang anak laki-laki yang mirip dengan Yoga dan tak sengaja menabraknya. Sandy pun berkata, ” Maaf. Lho kamu Yoga? Bukannya kamu itu…”. Belum selesai bicara anak baru itu memotong, ” Maaf, saya ini Yogi bukan Yoga.”. ”Kenapa ia bisa mirip sekali dengan Yoga, apakah Yoga punya saudara kembar? Tidak! Tidak mungkin, itu hanya perasaanku saja. Tapi kenapa sepertinya aku dekat sekali dengannya?”, kata Sendy dalam hati. Ia pun masih kebingungan dan akhirnya keingintahuannya terpecah setelah ia tahu bahwa namanya Yogi dan dia adalah siswa baru di sini. Kegelisahan yang bertebar di mana pun Sendy berada, kini menjadi sebuah misteri baginya. Semenjak disimpannya pecahan bintang berbentuk hati, ia semakin merasakan anomali yang jelas membuatnya bingung.

Semakin hari benar adanya, Sendy semakin dekat dengan Yogi. Bahkan sifat-sifatnya pun sangat mirip dengan Yoga, kekasihnya dulu. Apa mungkin Yogi
adalah Yoga? Tapi, kenapa Sendy tidak bertanya langsung padanya? Apapun yang terjadi Yoga sudah tak ada, ia adalah Yogi. Sesuatu yang mengganjal di hati Sendy, rasanya ingin ia tumpahkan segalanya. Tak kuat lagi bertahan, Sendy menanyakan kebenaran itu. Bila semua itu salah, ia pun tak akan menduakan Yoga. Sendy ingin setia, setia pada seseorang yang sejak dulu ia harapkan. Entah berapa bilion detik yang ia lewatkan tanpa daya. Saatnya pun tiba, saat yang membuat jantung serasa berlari sekencang-kencangnya. Yogi adalah seorang amnesia, ia hilang ingatan setelah ia mati suri. Tapi, ia masih menggali terus sedikit-demi sedikit memori yang pernah terpasang di kepalanya dulu. Tiba-tiba Yogi merasakan pusing teramat luar biasa saat ia mencoba mengingatnya dan ia pun tak kuat menahannya, ia pingsan. Sendy mencoba meminta bantuan teman-temannya untuk membawa Yogi ke UKS. Panik,panik, dan panik. Kepanikan kian memuncak begitu dahsyatnya, Sendy
semakin lengah dan terpejam.

Pyarrrr…
Pecahlah sebuah gelas yang tak sengaja disenggol tangan Yogi. Kepenatan yang kian mendalam tiba-tiba sirna karena Yogi tersadar dan bangun. Yogi telah mengingat semuanya, ia mencoba menceritakan masa lalunya kepada Sendy. Namun, Yogi tak ingat dua hal yang begitu penting, ia tak ingat siapa nama aslinya dan siapa Sendy. Ia mengatakan berompi-rompi kata bahwa dulu ia pernah menjalani operasi jantung dan ia pernah mati. Sebelum dikubur, jenazahnya disimpan di sebuah ruangan khusus. Beberapa jam kemudian ia terbangun dari kematiannya yang sakral dan ia sembuh dari sakitnya, ia mati suri. Setelah itu ia lari dari rumah sakit, namun keluarganya menganggap jenazahnya telah dicuri orang sehingga mereka tak mencarinya lagi. Kemudian, ia bertemu seorang kakek yang hidup sendiri dan kakek itulah yang memberikan nama Yogi. Beberapa hari, ia sempat tinggal bersama kakek yang berjasa besar itu. Tak apalah, takdir telah berpihak. Air mata perlahan menetes dari sudut binar mata Sendy. Sendy terharu sekaligus tersentak hatinya. Ia yakin bahwa Yogi adalah Yoga, kekasihnya. Sendy berkata dengan penuh terisak-isak, ” Kamu Yoga? Kamu Yoga kan? Aku merindukanmu Yoga… Sekian lama aku menantimu. Aku kekasihmu, Yoga..”. Yogi masih belum ingat siapa namanya dan siapa Sendy. Sendy menunjukkan sesuatu kepadanya. ”Ini, lihat ini. Ini adalah sebuah kalung yang pernah kau berikan padaku dan kau masih menyimpan satunya..”, sambung Sendy. Yogi mencoba dan terus mencoba mengingat segalanya. Akhirnya, setelah melihat Sendy memakaikan kalung itu ke lehernya, Yogi mengingatnya. Yoga adalah namanya yang sebenarnya dan dulu ia sangat mencintai Sendy. ” Oh, Yoga….”. ”Sendy, ini aku, ini aku.. Terima kasih, kau membuatku ingat segalanya.”
”Sekarang tak akan ada lagi perpisahan diantara kita, kau janji?”, kata Sendy. ”Ya, aku janji.”, kata Yoga.

Sejak itu, Sendy dan Yoga terus bersama menjalani hari-harinya. Belajar bersama, bermain bersama, bercanda bersama, semuanya bersama. Selamanya, itu yang mereka harapkan. Kembalinya cinta sejati tentu menjadi harapan semua orang, termasuk diriku. Karena kekuatan cinta selalu terlukis dalam setiap detik dengan begitu indah………

Pertanda sebuah kekuatan cinta yang abadi selalu terukir indah di pecahan bintang berbentuk hati, tersimpan dalam roman kasih dan sayang. Indahnya
jika kekuatan cinta terwujud dalam prospek kehidupan nyata. Ya, cinta .. – THE END –

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s