” WAITING FOR MIRACLE OF NEW YEAR “


Waiting For Miracle Of New Year

” Prayoga Ismail “

Setiap juta detik yg berlalu, melulu lirih meluluh tanpa arti. Apakah surya kala ia memancang tak membuatmu merasakan sakit ini. Kilau cahaya putih yg bersembunyi di balik bayangku akan segera menyatu. Lantaran duka sukma menusuk bagai duri-duri yg tajam. Semua itu bisa membuatku MATI. Entah sampai kapan aku memikirkannya. Jiwaku yang akan pergi melayang. Jauh di atas bintang yang semakin redup cahayanya.

Waktu bukanlah penentu masa hidupku, Tuhanlah yg berkehendak. Ada benalu di pikiranku yg mengatakan aku akan mati. Mati, meninggalkan dunia yg penuh sengsara ini. Aku tidak boleh takut. Waktu yg datang, waktu yg pergi, membuat resah hidup ini. Tapi juga, waktu adalah teman dan jawaban atas berbagai teka-teki paradoks dalam diri yg semakin menjadi-jadi. Malam pun tiba, seberkas cahaya indah yg bergelantung menghiasi langit2 mulai berpencar berwujud suatu bentuk yg unik. Bulan yg memantulkan cahayanya membuat mataku mengantuk dan aku pun tertidur memandangnya. Hikh..hikh..hikh.. Aku terbangun dari tidur malam yg tak lelap, dan terbatuk. Darah yg keluar memerahkan pikiranku yg semakin tak menentu. Aku mendengar jerit histeris organ2 tubuhku yg semakin sakit keras.

Eiga, janganlah kau menambah sesak dadaku dengan tangismu. Aku ingin kau menemaniku selalu. Tenang saja, tak lama lagi sayangku. Kini ku sedikit beranjak dari kasur putih bergambar strawberry, berdiri menuju jendela ‘tuk melihat takjubnya sawah2 yg menguning di samping rumahku.
Ibu, obat itu pahit terasa. Aku tak mau meminumnya lagi, buang saja. Perlahan, pipiku banjir dg air mata yg mengucur deras. Semua terasa sakit, bahkan makanan yg kutelan pasti kumuntahkan lagi. Aku tak mampu melawan rombakan penyakit ini.

Usai sarapan pagi, kepalaku sangat pusing dan aku terjatuh. Kelargaku panik, mereka membawaku ke RS terdekat yg cukup baik pelayanannya. Sesaat, dokter berwajah Chinese itu keluar dari ruang UGD, dan menerangkan bahwa aku terkena penyakit parah dan ganas, secepatnya harus di operasi. Ibuku sontak menangis dan memelukku yg masih koma. Sungguh, inikah akhir hidupku ? Inikah akhir kisah2 yg kuukir bersama sahabatku ?

Malam, kini kau datang menemuiku lagi. Kilau cahaya kuning telah sirna dari pandangku yang agak kabur. Derap suara jangkrik dan hewan kecil lain mulai melantunkan suara khasnya. Daun-daun kering yg terjun begitu saja, menandakan segenap rutinitas terhenti walau sejenak. Harimau malam meraum dan kunang-kunang berkedip-kedip menyorotkan sinarnya, seolah ingin menemaniku dalam kesepian ini. Menunggu, tanpa kepastian. Ya, hanya itulah yg bisa kulakukan saat ini, saat aku terbaring lemah dengan tubuh kaku nan menggigil. Entah apa yang bisa kutunggu, aku tak tahu. Dari bilik jendela bergandar itu, aku dikejutkan dengan gulungan kertas yg tiba-tiba saja jatuh di atas kasur. Aku memungut dan membacanya yg berisi ”Tahun Baru adalah keajaiban bagi dirimu, percayalah dengan keajaiban”. Aku bingung apa maksud surat itu lantas siapa pula yg melemparkannya kepadaku, ahh.. Aku semakin pusing. Keadaan yg semakin parah tak membuatku lengah, aku sempatkan menulis sesuatu di buku harian bercorak bunga matahari kesayanganku. Banyak kata yg kugoreskan dg tinta hitam ini akan mengingatkan tentang diriku, esok akan kuberikan kepada Eiga.

Tujuh hari sudah aku menginap opname di RS, namun Eiga belum pernah menjengukku kemari, aku rindu sekali dengannya. Apa mungkin dia tak tahu aku opname di RS ? Ataukah dia meninggalkanku karena penyakitku yang semakin parah ini? Malam, aku bertanya dan mengadu padamu ? Kenapa kau tak menjawabku ? Sisipan kalbu masihkah tersisa untuk Tahun Baru nanti ? Ataukah sebatas nista yg membara penuh kegorehan ? Penuh dengan pertanyaan paradoks menjelang ajalku. Kokok ayam jantan t’lah berkumandang, menggema, meriuh dan menggebu suasana pagi.

Sosok tatapanmerah kekuningan sang bintang mulai menyongsong hari. Semua rutinitas kembali beraksi, menyisir jalan-jalan rusak demi mengejar lowongan kerja atau sekedar untuk memburu sesuap nasi. Hari ini aku merasa sedikit enak badan dan aku diperbolehkan pulang. Sampai di rumah aku kembali terbaring lemah di kasur yang 7 hari aku tinggalkan. Siang pun memancang tepat di atas kepala yg seakan retak karena panasnya yg begitu menyengat dan tak bersekat. Usai makan siang, tiba-tiba ada yg mengetuk pintu depan dan ibu pun membukakannya. Surprise, lihat siapa yang datang. Ternyata Eiga datang menjengukku bersama teman2 dan satu orang yg sejak dulu ingin ku bertemu dengannya, Jonathan. Sedari dulu aku mengidolakan Jonathan yg keren dan bersuara merdu itu. Aku senang dan tak menyangka mereka datang, terutama Eiga dan Jonathan. Mereka membawa plakat dan semacam kado untukku yang sangat berarti bagiku. Mereka pun memberiku semangat untuk berjuang mencapai kesembuhan. Rasa empati dan simpati yang begitu besar kurasakan memancar secara radiatif dari support mereka. Beberapa jam sudah mereka duduk di sampingku dengan disuguhi jus apel dan biskuit kelapa. Semangat yg mereka berikan membuat diriku memberanikan diri untuk operasi. Karena hanya itulah jalan satu-satunya untuk mencapai kesembuhan.

Sesaat kemudian, akhirnya mereka pulang. Sebelum pulang, aku meminta Jonathan untuk menyanyikan lagu yg paling kusuka, oooh… Suaranya indah sekali. Semua pun pulang kecuali Eiga yang ingin menemaniku seharian. Aku pun diajak berbincang kesana kemari dengannya. Malam tiba, Eiga kembali pulang. Kini suasana rumah sunyi sepi. Rasa rindu dan cinta seakan menusuk jantungku lagi. Dini hari sekitar pukul 03.00 di rumah, tiba-tiba suhu tubuhku naik drastis dan batuk darah pula terulang kembali. Rasanya aku tak kuat lagi menopang sakit ini. Ayah menggendongku menuju ke RS itu lagi. Ibu sangat khawatir dengan keadaanku sekarang. Kata dokter, aku harus segera di operasi. Sebelum operasi, aku menitipkan buku harianku kepada Eiga. Permintaan terakhirku hanyalah ingin bertemu Eiga seorang. Operasi akan berlangsung selama 3-4 jam. Selama itu pula semua orang yang mengantarku berdo’a demi keberhasilan operasiku. Saatnya telah tiba, dokter pun mulai membiusku dengan suntikan obat penenang. Ketegangan mulai hinggap di benakku, tiba-tiba aku teringat gulungan kertas kemarin dan aku berharap itu terjadi padaku. Menanti keajaiban. Akhirnya, 4 jam berlalu begitu cepat. Tim dokter segera memindahkanku dari ruang operasi ke ruang perawatan. Semua menunggu dengan was-was dan terlihat cemas. Sampai dokter menyatakan bahwa operasiku BERHASIL. Semua tampak lega dan bersyukur kepada Tuhan. Mereka pun segera masuk dan melihat keadaanku yang masih lemas. Eiga duduk di samping kiri, ayah dan ibu duduk di samping kanan, Jonathan pun datang lagi. Semua terharu, Eiga memeluk erat diriku bergantian setelah orang tuaku.

Sembuh total bisa kudapatkan dengan istirahat cukup dan matuhi anjuran dokter serta minum obat dengan teratur. Terima kasih Tuhan, aku selalu percaya padamu dan keajaiban yang kau kirimkan kepadaku. Entah siapapun yg melemparkan kertas itu, ialah malaikat penyelamat hidupku yg selalu ada di hatiku. Kan kuingat kejadian kemarin sebagai cobaan. Tuhan, kau telah memberiku kesempatan hidup lagi. Hidup kedua ini, aku akan berusaha menjadi yang terbaik. Malam ini adalah malam Tahun Baru. Aku berharap keajaiban Tahun Baru ini tidak hanya datang padaku, semoga juga bagi semua orang. Malam yang indah penuh dengan meriah. Sekarang pukul 23.00, satu jam lagi akan terjadi pergantian tahun. Aku ingin merayakannya walau sederhana saja. Menanti keajaiban adalah motivasi untuk percaya dan berusaha.

~ THE END ~

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s