” MASIH ADAKAH RASA CINTA ? “


Masih Adakah Rasa Cinta Itu ?

” Prayoga Ismail “

Pratiotisme berarti memiliki rasa cinta kepada bangsa dan negaranya sendiri yang mencakup afeksi, kepedulian, keberagaman, dan kesediaan untuk berkorban. Selanjutnya rasa cinta itu akan terwujud dalam suatu tindakan nyata[1]. Namun, masihkah kita sempat menyoal “rasa cinta” ini di tengah meledaknya kasus-kasus negeri yang berkepanjangan.

Semoga saja. Sebenarnya masih ada celah kecil yang bisa dikapilerisasi “rasa cinta” ini. Tepatnya tanggal 10 November yang ditetapkan sebagai Hari Pahlawan. Momen sakral ini sudah sepantasnya menjadi wadah kenangan atas perjuangan para pahlawan yang telah memperjuangkan kemerdekaan negeri kepulauan ini. Wajib hukumnya diadakan upacara khusus untuk memperingatinya. Namun sayang sekali, di beberapa daerah hujan mengguyur merata termasuk di sekolah-sekolah. Alhasil, upacara pun dibatalkan. Walaupun ada juga yang masih setia berdiri khidmat untuk untuk melaksanakan upacara di bawah tenda. Padahal upacara barulah hal kecil dari patriotisme. Kalau sudah begini, di manakah “rasa cinta” itu. Masihkah kita mencintai negeri ini. Ataukah rasa itu telah hanyut terseok-seok diterjang badai globalisasi.

Dahulu kala pratiotisme diterjemahkan sebagai aksi angkat senjata melawan para penjajah. Berbeda dengan sekarang, patriotisme haruslah dimaknai sebagai upaya untuk mewujudkan kebaikan multidimensional untuk Indonesia. Terhitung dari perbaikan rekonstruksi pendidikan, politik, sosial, ekonomi, budaya, hukum, dan terutama kasus-kasus besar yang belum menemukan titik terang. Ironisnya, kebanyakan penduduk negeri tropis ini menganggap bahwa semuanya baik-baik saja dan tidak ada masalah yang perlu dipikirkan. Itu artinya, sikap patriotisme sama sekali tiada harganya bagi mereka. Ataukah bisa jadi mereka tidak tahu apa itu patriotisme. Bukankah “rasa cinta” itu sudah menjadi buah bibir yang hampir membusuk di telinga kita. Boleh jadi, masyarakat Indonesia hanya berpura-pura “mencintai” negaranya. Tanpa ada satu pembuktian nyata. Padahal konteks di atas telah disebutkan bahwa selanjutnya rasa cinta itu akan terwujud dalam suatu tindakan. Tindakan apa yang sudah kita perbuat untuk negara kita ? Kerusuhan, anarkisme, demonstrasi, kejahatan, atau bahkan korupsi ? Inikah yang dinamakan patriotisme ?

Jelaslah bahwa patriotisme bangsa Indonesia kian meluntur. Tindakan yang dimaksudkan disini adalah positif. Dan tindakan itu tidak selalu besar. Banyak hal kecil yang bisa kita lakukan untuk “rasa cinta” kita. Kita bisa memulainya dari selalu mengikuti upacara dengan khidmat, hafal lagu-lagu wajib, mengamalkan nilai-nilai Pancasila, dan mengisi kegiatan sehari-hari yang berorientasi pada masa depan kita, dan bahkan mendulang prestasi lewat kompetisi sudah menunjukkan patriotisme. Lalu bagaimana bentuk konkret dari “rasa cinta” pada Indonesia sebagai visi bersama yang luhur tersebut? Setidaknya ada dua. Yang pertama, kita bisa menjadi pencipta sebagai penyebar ide-ide pencerahan yang berguna untuk perkembangan Indonesia, baik dalam bidang, ekonomi, politik, hukum, dan sebagainya. Yang kedua, kita bisa turun ke lapangan untuk menciptakan gerakan sosial, ataupun organisasi, bagi perkembangan masyarakat, dan konsisten berjuang di dalamnya. [2]Seharusnya para pemuda Indonesia menerapkan prinsip Student Today, Leader Tomorrow. Maksudnya pemuda harus terus belajar meningkatkan kualitas dirinya, sehingga kelak dapat menjadi pemimpin yang baik. Karena pendidikan memiliki peran penting dalam membentuk jiwa patriotisme para generasi muda.

Oleh karena itulah, wacana tentang patriotisme harus lebih sering diperdengarkan, terutama oleh anak-anak muda harapan bangsa. Tujuannya ialah supaya kesadaran patriotik semacam itu bisa tersebar dan terus berkembang. Semuanya demi mewujudkan cita-cita kemerdekaan Indonesia, yakni kemerdekaan yang menjadi jembatan emas menuju keadilan dan kemakmuran. Cara lain adalah dengan menggali dan mengkaji secara kritis mendalam dasar negara kita, yakni Pancasila. Karena sejatinya Pancasila memuat refleksi dari kepribadian asli bangsa Indonesia terutama patriotisme. Marilah kita jadikan Hari Pahlawan ini sebagai refleksi tentang patriotisme dan memperkuat “rasa cinta” itu. Bangkitlah, patriotisme Indonesia !

Catatan kaki :

[1]Reza A.A Wattimena, Bangkitlah Patriotisme Indonesia!, dapunta.com
[2]M. Banu Adam, Patriotisme Pemuda, banualvino.blogspot.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s