” MAJU ATAU MUNDUR “


Maju Atau Mundur

” Prayoga Ismail “

Teknologi tak ubahnya bagaikan waktu, yang terus berubah dan selalu diperbarui. Seolah, selalu ada sesuatu yang membuat para pecinta teknologi makin tertarik dan kepingin. Apalagi di negeri berpenduduk terbesar keempat dunia ini semua orang hampir tergila-gila dengan teknologi. Parahnya lagi, tidak ada satupun produsen teknologi yang menaungi negeri kepulauan ini. Lantas bagaimana seluruh kebutuhan barang teknologi itu bisa terpenuhi ? Ya, jawabannya mudah saja, dengan mengimpor. Cara yang satu ini masih saja dimanfaatkan oleh pemerintah Indonesia untuk menambal sulam segala kebutuhan rakyatnya. Padahal, justru akan menimbun gulungan hutang yang belum sempat terbayar semenjak melejitnya orde reformasi.

Kemajuan pesat teknologi dunia pun turut mewabah di negeri merah putih ini. Lihat saja, berbagai jenis jajanan teknologi asing tersusun rapi di jajaran toko-toko besar di seluruh pelosok negeri. Cobalah perhatikan baik-baik satu persatu merek barang teknologi yang mem-booming di pasaran negeri ini. Mulai dari motor, mobil, handphone, blackberry, laptop, televisi, radio, bahkan sebuah jam dinding dan tiada satupun label “made in Indonesia”. Betapa ironisnya, kemajuan teknologi di negeri ini. Lalu sebenarnya apakah ide-ide teknologi bangsa kita ini maju atau mundur? Jawabannya tarik ulur. Dari segi konsumerisme, tak perlu dipertanyakan lagi karena hampir 80 persen penduduk Indonesia telah mencicipi teknologi . Namun, dari segi kreativitas, hancur berkeping-keping tiada satu pun produsen teknologi yang berdiri mengimbangi tingginya konsumsi teknologi. Ya sudahlah. Boleh jadi perkembangan teknologi hanyalah citra semu dan kemunduran teknologi adalah fakta yang samar.

Wajar saja, sifat dasar penghuni negeri tropis ini adalah pemalas. Bisa jadi, fundamental tersebut menjadi batu besar yang menjadikan kemajuan teknologi pribumi macet total. Sebenarnya pada orde sebelum reformasi, Indonesia pernah menaungi salah satu proyek besar di dunia penerbangan. Siapa lagi kalau bukan Pak Habibie. Beliaulah yang mampu menggerakkan mekanisme industri pesawat terbang handal. Bahkan produk-produk sederhananya mampu bersaing di pasaran global. Sebut saja IPTN (Industri Pesawat Terbang Nasional) di Bandung yang dulu pernah dikelola oleh B.J. Habibie mampu menerawang terobosan-terobosan inovatif untuk ditumpahkan dalam proyek produksi pesawat terbang tersebut. Pada pertengahan tahun 2000 saja, Indonesia telah mendapatkan order melimpah dari berbagai negara, diantaranya ialah  Namibia. Pemerintah Namibia memutuskan untuk membeli puluhan pesawat terbang dan helikopter buatan IPTN Bandung. Sungguh sebuah pencapaian yang tak bisa diperbandingkan.Ya, industri masa lalu yang cukup membanggakan. Bandingkan dengan sekarang, di orde yang katanya reformasi ini semua telah berubah dengan sekejap atau merevolusi diri. Jadi, sebenarnya apa ? maju atau mundur ? Tanyakan mereka. Mereka siapa ? Saya, Anda, kamu, kita (mungkin).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s