” BOM WAKTU “


” Prayoga Ismail ”

Cerpen – Bom Waktu

Hari itu, langit berkata pada barisan mega-mega putih yang bersemayam. Pada bias mentari yang merendah, di belahan angin yang berpusara. Di sana burung-burung beterbangan mengatur lintas cuaca. Terdengar riuh kicau burung tengah bersua, memeluk erat rantai-rantai sayap yang berjatuhan. Tarian mimpi dari kaki langit sejenak menyemaikan waktu yang mulai goyah.
Vera, seorang gadis belia terbaring di atas hamparan hijau rerumputan di halaman rumahnya yang cukup luas. Matanya terbelalak memandangi horison. Tubuhnya kurus, cukup ramping untuk memakai baju berukuran L. Ke manapun ia selalu mengenakan baju warna ungu. Ungu? Bukankah itu warna janda. Baginya ungu tak harus berarti warna janda. Ia menyukai warna ungu semenjak ia ditinggal mati oleh mamanya. Mamanya meninggal dua tahun lalu karena penyakit jantung. Dan mungkin penyakit itu akan menurun padanya. Terakhir kali, sebelum meninggal dunia mamanya memberikan sebuah baju dan rok berwarna ungu sebagai kado ulang tahunnya. Pada akhirnya, ia terus memakai pakaian warna ungu karena ia teringat hal itu.

Untuk ke sekian kalinya, ia membuka buku itu. Buku yang berisikan lembaran-lembaran kusam yang terselimut oleh debu tipis pula terbungkus rapi oleh sampul biru bergambar kupu-kupu bertuliskan ‘Keadilan Hidup’. Apalah arti keadilan baginya, jikalau ia belum pernah merasakan keadilan itu semasa hidupnya. Ia terlalu sering mendengar perkataan itu di pikirannya. Sebenarnya ia tak suka membahas masalah itu. Tapi, harus bagaimana lagi, saat ini ia sedang dihadapkan dengan masalah keadilan. Tak jarang, air matanya perlahan menetes di sudut pipinya acapkali ia membaca buku itu ia teringat mamanya. Ia tersadar dan menghapus air matanya dan menilik dentang waktu yang terikat di tangannya. Ternyata sudah jam sembilan, ia menutup buku itu dan membawanya masuk ke dalam rumah.

Rumah, Vera lebih senang menghabiskan hidupnya di rumah. Rumahnya terletak di Perumahan Runting, salah satu perumahan yang cukup dikenal oleh masyarakat di Kota Pati. Tepatnya, berada di paling pojok dari arah barat. Sederhana, tapi tak ketinggalan zaman karena desain rumahnya minimalis. Ada banyak rencana di benaknya. Menata beranda, menghias kamar, bersih-bersih rumah, membuat kolam kecil, dan rencana kecil lainnya. Baginya, rumah adalah istana yang harus ia tata sedemikian rupa. Tak ada tempat lain untuk menghabiskan waktu selain di rumah. Padahal, di rumah hanya ada dia dan ayah. Tapi, ia tak pernah merasa bosan. Walaupun, terkadang ia merasa dikurung dalam penjara tirai besi yang ditinggikan ataupun ia merasa hidupnya seperti humor putri raja. Namun, ia tak tahu harus pergi ke mana. Mau ke rumah teman, semuanya jauh. Ya, memang hidup sepenuhnya berada di rumah. Ketika ia berdebat dengan ayahnya, suasana yang terbangun sangatlah ramai, seperti debat sungguhan. Bahkan di dalam rumah, Vera dan ayahnya acapkali memakai pengeras suara ketika berdebat. Tak jarang, suaranya terdengar sampai ke rumah-rumah tetangga. Kalau sudah begitu, ia bisa merasa terlepas dari jerat-jerat masalah yang membuatnya stres.
Ia berjalan dengan tergopoh. Perlahan pintu rumahnya terkuak oleh bias mentari pagi yang merendah. Jemari kakinya terlihat basah karena embun pagi yang pekat. Ia berhenti sejenak di tepian kolam untuk membilas kakinya. Lalu kakinya digosok-gosokkan pada keset yang terbentang di depan pintu rumah. Kemudian ia masuk begitu saja. Di dalam rumah, terlihat ayahnya sedang duduk di sofa asyik menonton berita di televisi sambil berbicara pada seseorang lewat telepon. Tampaknya, ayahnya akan mendapat tugas baru. Maklumlah, betapa sibuknya seorang pengacara. Ia mengabdikan dirinya untuk keadilan dengan membela orang-orang yang berkasus. Namanya cukup terkenal karena ia selalu berhasil memenangkan perhelatan di meja hijau, sehingga orang-orang yang meminta bantuannya tak pernah merasa kecewa. Vera adalah anak satu-satunya. Dan ia berobsesi kelak anak sematawayangnya itu hendak menjadi seorang pengacara sepertinya. Karena ia bisa melihat bahwa anaknya itu memiliki bakat yang luar biasa dalam berdebat. Hal itu jelas terbukti. Lihatlah, di dalam almari kaca yang berada di sudut rumah dipenuhi oleh trofi-trofi, piala, bahkan medali hasil jerih payah Vera. Vera memang hebat dalam berdebat, seringkali ia memenangkan lomba-lomba seperti itu.

”Seandainya saja mama masih ada. Pasti ia akan bangga sepertiku.”

Gadis berbaju ungu itu langsung saja masuk ke kamarnya. Kamar yang dibuat khusus untuknya. Dindingnya dipenuhi oleh beberapa foto dan gambar diri. Lantainya dipasangi keramik warna hijau tua nan lembut. Di dekat jendela terdapat meja dan kursi belajar beserta tumpukan buku-buku pelajaran yang tertata rapi. Di tengah-tengah kamar terdapat sebuah ranjam spring-bed untuk beristirahat. Ada sebuah almari besar yang letaknya persis di sebelah pintu toilet dalam kamarnya. Vera lantas berbaring di ranjamnya. Ia hendak melanjutkan membaca buku ‘Keadilan Hidup’, buku milik ayahnya. Semakin ia mendalami deretan frasa yang berjajar, terasa kian hambar baginya. Kini ia mencoba menyalakan sebuah televisi di kamarnya. Jam berapa sekarang, sudah jam dua siang. Ditatapnya gambar-gambar semu, namun semuanya juga membosankan. Isinya hanya gosip-gosip selebriti, berita-berita terasa hambar, dan omong-omong tinggal kosong. Dimatikannya kembali televisi itu. Lalu, ia mencoba membuka beranda facebooknya. Ia harap bisa menatap wajah-wajah temannya dalam dunia maya. Ternyata isinya hanyalah notifikasi yang bertumpuk-tumpuk atau beberapa colekan dari teman, statusnya kian senyap dan lenyap. Ia pun segera log-out dari jejaring sosial itu. Vera merasa sangat bosan karena tak ada seorang pun yang mengajaknya berdebat. Sudah lama tak ada lomba debat. Ia merindu akan perdebatan seputar politik negeri, wakil rakyat, atau sekedar masalah pelajaran kuliah. Buku itu pun terus-menerus ia baca sudah 100 halaman, tapi buku itu masih terlihat tebal. Hingga matahari tenggak di balik gunung, ia tunda membacanya.

Senja hari, suasana terasa lengang di hatinya. Vera terus menatap tajam sebuah lukisan yang terpampang di dinding dan terjepit diantara foto dan gambar diri. Entahlah, apa yang membuatnya tertarik pada lukisan itu. Padahal, itu hanya sebuah lukisan ruang kosong. Lukisan itu dibelinya bersama mama dua tahun lalu di sebuah pameran. Semakin ia menatap, semakin terasa kosong, pikirannya seperti dihipnotis. Terkadang ia ingin membuang lukisan itu, tapi seperti ada yang menghalau otaknya untuk memberikan instruksi kedua tangannya. Tak lama kemudian, ia pun tersadar karena ada seekor kucing yang melompat dari atas genteng. Ia pun segera mengalihkan pandanganya ke luar jendela. Tiba-tiba saja ada dua orang lelaki paruh baya yang membawa sepeda motor berboncengan menuju rumahnya. Ditatapnya sekilas dan ia segera menutup tirai dari jendela itu.
Malam hari, dua orang paruh baya yang dilihatnya tadi bertamu di rumahnya. Vera pun menyuguhi dengan segelas teh hangat buatannya. Ditaruhnya gelas-gelas itu di depan para tamu dan ia menambah dengan senyum manisnya sambil mengangguk. Setelah itu, ia menuju ke kamarnya lagi. Vera tak mau mengganggu ayahnya menjamu tamu-tamunya. Terkadang hatinya gundah dan merasa terganggu karena setiap malam pasti ada tamu.
”Huuh, setiap malam pasti ada pelanggan ayah datang. Bosan! Tapi, ayah hebat juga. Banyak orang yang membutuhkannya.”
Hari semakin kelam, televisi masih menyala, tamu yang sedari tadi masih saja kuat berbicara. Padahal, ini tengah malam.
”Dasar, tamu kok tidak tahu waktu. Mengganggu saja. Aku tidak bisa tidur!!!”

Insomnia, acapkali ia mengalami hal itu. Tamu-tamu ayahnya lah yang menebar derita insomnia kepadanya. Bagaikan vektor yang menghantarkan penyakit. Padahal, esok hari ia harus wisuda kelulusan di Fakultas Hukum. Tengah malam itu ia mempersiapkan pakaian dan beberapa ornamen sebagai aksesoris. Pun kata-kata yang hendak ia ucapkan besok telah dirangkainya malam itu juga. Akhirnya, saat malam yang makin lelap, gerimis pun datang. Gerimis yang ritmis bersimphoni dengan dentum jarum jam yang kedua belas. Tamu-tamu sudah berpulang, diintipnya dari bilik tirai. Tak kuat lagi ia menahan kantuk, ia pun tertidur dengan wajah rumpang di saat gerimis yang ritmis berubah menjadi gerimis yang magis.

_* * *_

Derai-derai cemara yang mengapit rumahnya menggugurkan dedaunan kering. Ranting-ranting nan rapuh terbias oleh sepoi bayu yang menyemaikan udara dingin di sekitar rumahnya. Dari sudut timur, kokok ayam jantan menatap tajam mentari yang meninggi. Pagi yang membuta, orang-orang dibuatnya menggigil oleh setetes embun pekis. Dan hari itu Vera akan diwisuda. Ia berharap kali ini ayah meluangkan sedikit waktunya untuk mengantar gadis yang berbaju ungu itu.
Dan ternyata benar, ayahnya bersedia mengantarnya. Karena hari itu ia absen tugas sebagai pengacara. Setibanya di kampus, acara pun segera dimulai. Jantungnya berdebar kencang, meletup-letup tanpa henti. Dan ketika namanya dipanggil oleh mahaguru untuk berdiri di atas podium, bibirnya terasa kaku. Mulutnya seperti terkunci oleh gembok, kata-kata yang sempat ia persiapkan hilang begitu saja. Ia terdiam dan menghela nafas. Dengan begitu ia bisa berbicara dengan tenang. Seusai wisuda, Vera berfoto bersama ayah dan mahaguru. Sayangnya, kebahagiaan kali ini terasa rumpang. Karena hatinya yang dibuat bimbang.

”Mama, aku pasti bisa. Lihat, Mah. Aku sudah lulus. Mama bangga, kan?”

Itulah yang terucap ketika ia mampir ke makam mamanya. Ia menunduk dan setengah jongkok. Perlahan, kepalanya menengadah ke atas langit dan matanya terpejam. Air mata mengalir silih berganti dari sepasang mata Vera dan ayahnya. Sesekali mendecap dalam hati, ”Aku rindu mama. Aku dan ayah akan selalu sayang mama.” Selepas itu, Vera dan ayahnya bergegas pulang dan berusaha melengkapi kebahagiaan yang rumpang. Gelar sarjana hukum telah ia raih, dan mulai dari sekarang ia belajar menjadi seorang pengacara. Seperti ayahnya, yang berjuang demi keadilan. Dalam perjalanan ia membaca buku itu lagi. Tampaknya ia hobi membaca. Khususnya buku-buku milik ayahnya, tentang keadilan.

Sesampainya di rumah, Vera diajarkan menjadi seorang pengacara oleh ayahnya. Tampaknya ia cukup paham teknik-tekniknya, bagaimana pembelaan dilakukan, dan bagaimana menanggapi kritikan dan cara mengungkap bukti. Esok hari ia pertama kali beralih profesi dari seorang mahasiswa menjadi seorang pengacara. Ia berharap ia bisa menjadi pengacara profesional semacam ayahnya. ”Sudahlah, tak perlu bingung. Negeri yang katanya demokrasi, ternyata malah menjadi demonstrasi. Negeri yang katanya bersih, ternyata malah mengotori dirinya sendiri dengan basuhan korupsi. Petinggi negeri yang obral janji, malah membubarkan gagasan yang telah diyakini. Termasuk juga, hukum yang terbolak-balik. Sesungguhnya di manakah letak keadilan? Selama ini hanya omong kosong, tak ada realisasi sama sekali. Rencana hanya tinggal rencana, tapi nyatanya apa? Nol besar. Kinerja pemerintahan patut dipertanyakan. Kalau perlu jabatannya dipertaruhkan. Tinggal menunggu waktu untuk meledakkan bom waktu.”, gumam Vera.

Hari itu adalah hari pertama ia menjadi seorang pengacara. Ia bekerja sekantor dengan ayahnya. Vera pun memperkenalkan dirinya kepada rekan kerja ayahnya. Namun di saat ia menjadi seorang pengacara, ia harus bekerja profesional. Dirinya berbeda ketika ia sedang di rumah dan di kantor. Tiba-tiba saja, ada seorang buronan yang hendak dihukum mati datang menghampiri kantor tempat kerjanya itu. Ia membisikkan sesuatu kepada ayah Vera. “Saya akan bayar Anda dua kali lipat, jika Anda bisa memenangkan sidang untuk saya.”, begitulah yang dikatakan oleh buronan itu. Ini adalah pertama kali ayahnya menerima klien seorang buronan, setahunya selama ini. Vera sempat heran kepada ayahnya, mengapa ayahnya mau menerima klien seperti itu. Di saat yang bersamaan, ada juga orang yang menjadi lawan buronan tersebut saat sidang nanti. Mereka itu adalah pihak keluarga korban. Pada hari itu, semua rekan kerja ayahnya memiliki jadwal penuh. Dan akhirnya, Vera mendapat klien untuk kali pertama. Ia menerima klien dari keluarga korban. “Seharusnya ayah memilih yang satu ini. Bukan buronan itu.”, berontaknya dalam hati. Kesepakatan telah dibuat dan esok hari sidang dimulai.

Malam itu adalah malam yang paling pekat bagi kedua pengacara itu. Meskipun, pengacara itu adalah anak dan ayah. Vera bahkan tak mengira jikalau pembelaan dalam sidang juga diperuntukkan bagi orang-orang yang bersalah. Sungguh ironis, dahulu ia kira ayahnya itu berjuang demi keadilan untuk orang-orang yang tertindas, bukan untuk yang menindas. Benar-benar panas, hatinya bagai tersiram air panas oleh ayahnya sendiri. Perang mulut pun tak bisa dihindari.

”Mengapa Anda mau membela orang yang salah?”

”Orang yang salah juga perlu pembelaan. Karena itu adalah haknya sebagai warga negara.”

”Hak? Apakah hanya karena itu Anda mau membelanya?”

”Saya kasihan. Lagipula ini sudah menjadi kewajiban saya.”

”Apa? Kasihan? Lalu apa Anda tidak merasa kasihan pada pihak korban?”

”Tapi, semua ini demi keadilan.”

”Keadilan? Apa maksud Anda? Sebenarnya di mana letak keadilan? Apakah keadilan pantas bagi
orang-orang yang sudah terbukti bersalah?”

”Bukan begitu.”

”Lalu bagaimana? Saya minta pendapat Anda?”

”Sudahlah, kau masih terlalu bersih dari masalah ini. Bersiaplah untuk besok.”

”Begitu ya? Baiklah! Tunggu besok!”

”Menurut Anda, apakah saya tidak pantas menjadi seorang pangacara?”

”Jika ternyata seperti ini, jelas tidak pantas.”

”Bukan masalah.”

“Mungkinkah gara-gara Anda dibayar dua kali lipat olehnya?”

“Bukan. Sudahlah pikirkan untuk besok saja.”

Terus seperti itu, perdebatan malam itu membuat Vera ingin menegakkan keadilan yang sebenarnya. Ia akan menemukan arti sesungguhnya dari keadilan, walaupun sebatas pengacara junior. Ia tampak kecewa dengan keputusan ayahnya. Ia akan melanjutkan perdebatannya besok pagi saat di pengadilan. Ia merasa harus memenangkan sidang esok hari. ”Jangan sampai buronan itu menang dalam sidang. Jika ia menang, keadilan memang benar-benar sudah rusak. Aku harus membenahi persepsi yang terbolak-balik ini.” Sebenarnya ayahnya sudah tahu keadilan. Ia sudah paham karena lebih dari sepuluh tahun ia menjadi seorang pengacara. Tapi, di samping itu baru-baru ini ia sedang membutuhkan uang untuk melunasi hutang-hutangnya karena dua hari lalu ia sudah ditagih. Dua orang yang bertamu kemarin adalah pesuruh dari orang yang menghutanginya.

Hari itu pun datang dengan cepat. Segala macam dokumen-dokumen penting dan segenap bukti-bukti telah disiapkan oleh Vera. Ayahnya pun tampaknya sudah bersiap untuk berperang dalam sidang. Mereka berdua tidak berangkat secara bersamaan. Mana mungkin dua orang pengacara yang sedang dihadapkan pada masalah yang bersilangan berangkat bersamaan. Yang ada Vera berangkat lebih dahulu. Beberapa menit kemudian, ayahnya menyusul dari belakang mengendarai motor bebeknya.
Sesampainya di sana, terlihat Vera sudah bersama dengan pihak keluarga korban. Kemudian ayahnya tiba dan segera bergabung bersama seorang buronan yang hendak dibelanya. Para hakim dan pihak yang berkepentingan serta beberapa wartawan mulai memasuki ruangan sidang. Yang terakhir masuk adalah pimpinan sidang. Beliau mengenakan jubah hitam dan memakai kacu leher warna putih. Beliau pun segera mengambil alih pimpinan sidang.

”Dok..dok..dok.. Sidang dimulai.”
Pimpinan sidang memberi tanda dimulainya persidangan. Kedua pengacara itu benar-benar bekerja secara profesional. Vera menganggap sidang hari itu adalah lomba debat baginya. Dahulu ia pernah mengikuti lomba debat pengacara dan ia merasa harus menang kali ini. Perdebatan pun tak henti walau sesaat. Tak ingin berlama-lama, perdebatan pun telah berakhir. Sidang di-skors selama kurang lebih satu jam. Di sela-sela waktu itu, wajah Vera terlihat suram. Ia khawatir jika pihak keluarga korban tidak memenangkan sidang tersebut. Jantungnya berdebar semakin kencang, setiap detiknya mengalami percepatan. Mulutnya sedari tadi komat-kamit dan sesekali memejamkan matanya. Satu jam kemudian, hasil sidang dibacakan. ”Berdasarkan keputusan sidang, maka terdakwa dijatuhi hukuman……..mati.”.

Saat ia mendengar keputusan itu, jantungnya seperti mau copot, tapi akhirnya ia lega bisa memenangkan pembelaannya. Dengan spontan ia mengucap alhamdulillah sebagai tanda syukur kepada Tuhan dan sontak memeluk keluarga korban. Untuk pertama kali Vera berhasil memenangkan sidang dan pihak keluarga korban cukup puas atas hasil kerjanya. Vera berhasil. Anehnya, untuk pertama kali pengacara senior itu kalah dalam persidangan. Bahkan dirinya pun tak menyangka dengan hasil sidang saat itu. Vera berkata pada ayahnya,

”Ayah, maafkan aku.”

”Tak apa-apa. Kau hebat anakku. Ayah bangga denganmu.”

”Yah, kutunjukkan engkau dengan keadilan sejati. Seperti inilah.”

”Kau benar. Mulai sekarang, ayah akan belajar dari sidang kali ini. Ayah yakin kau akan lebih
hebat dari ayah.”

”Aku bangga bisa menegakkan keadilan. Keadilan yang sebenarnya, bukan keadilan yang buta.”

“Ayah tahu, anakku. Sebenarnya ayah terpaksa menerima buronan itu sebagai klien. Karena ayah sangat membutuhkan uang itu untuk membayar hutang.”

“Ayah? Mengapa ayah seperti itu? Ayah jangan semakin menambah ruwet keadilan di negeri ini. Cukuplah keadilan yang menggila selama ini. Ayah jangan sekali-kali mempermainkan keadilan!”

“Ya, ayah tahu. Ayah sadar, selama ini ternyata ayah salah.”

“Ingat, Yah. Keadilan itu untuk kebenaran, bukan karena terpaksa ataupun karena sesuatu yang lain. Jika kita sudah mengabdikan diri untuk keadilan, maka jangan sampai kita menyalahkan keadilan itu.”

“Kamu benar, anakku.”

Kemudian Vera memeluk ayahnya dengan erat. Semenjak saat itu, Vera menjadi pengacara hebat bahkan ia bisa melebihi ayahnya. Seringkali jika ayahnya hendak mengambil sebuah keputusan, Vera lah yang dimintai saran, terutama masalah keadilan. Ketika ayahnya pensiun, ialah penerusnya. Media pun terus menyorot keberhasilan pengacara berbaju ungu itu. Sejak saat itu pula, keadilan benar-benar terbangun sejati. Dan ia pun berhasil memperbaiki polemik keadilan di negeri tercintanya. Kemunculannya bagaikan bom waktu bagi keadilan yang memalsu. Untuk menuai keadilan yang seadil-adilnya.

___* * *___

Pati, Mei 2011

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s